Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Uwais al-Qarni, Anak Berbakti dari Yaman

3 menit baca

Pegunungan Haraz di Yaman, negeri asal Uwais al-Qarni. Gambar: Rod Waddington from Kergunyah, Australia · CC BY-SA 2.0 · sumber

Setiap kali pasukan bantuan dari Yaman tiba, Khalifah Umar bin Khattab selalu menanyakan hal yang sama kepada mereka. Adakah di antara kalian orang bernama Uwais bin Amir?

Pertanyaan itu ia ulang berkali-kali. Orang-orang Yaman itu mungkin heran. Nama itu bukan nama panglima, bukan nama tokoh suku, dan tak dikenal di kalangan para pembesar. Mengapa orang yang memimpin negeri sebesar itu begitu sibuk mencari seorang lelaki biasa dari Yaman?

Akhirnya, seperti diriwayatkan dalam Sahih Muslim dari Usair bin Jabir, Umar menemukannya.

“Engkaukah Uwais bin Amir?”

“Ya.”

“Dari kabilah Murad, lalu dari Qaran?”

“Ya.”

“Engkau pernah menderita penyakit kulit, lalu sembuh, kecuali sebesar satu dirham?”

“Ya.”

“Engkau punya ibu?”

“Ya.”

Mendengar semua itu, Umar menyampaikan apa yang pernah ia dengar dari Rasulullah: akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama pasukan bantuan dari Yaman, dari Murad lalu Qaran. Ia pernah menderita penyakit kulit yang telah sembuh kecuali sebesar satu dirham. Ia punya ibu dan sangat berbakti kepadanya. Sekiranya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika engkau bisa meminta ia memohonkan ampun untukmu, lakukanlah.

Khalifah kaum Muslimin, sahabat dekat Nabi, berdiri di hadapan lelaki yang tak terkenal itu dan meminta didoakan.

“Mohonkanlah ampun untukku.”

Uwais pun memohonkan ampun untuknya.

Umar bertanya hendak ke mana ia. Ke Kufah, jawab Uwais. Umar menawarkan untuk menuliskan surat kepada gubernur Kufah, sesuatu yang akan membukakan semua pintu baginya. Uwais menolak dengan halus. Ia lebih suka berada di tengah orang-orang miskin.

Tahun berikutnya, seorang pembesar Kufah datang berhaji dan bertemu dengan Umar. Umar menanyakan kabar Uwais. Lelaki itu menjawab bahwa Uwais tinggal di rumah yang sangat sederhana dengan bekal yang sedikit. Umar lalu menyampaikan kembali hadis itu kepadanya.

Sekembalinya ke Kufah, orang itu langsung mencari Uwais dan memintanya mendoakan. Uwais menjawab bahwa orang yang baru pulang dari perjalanan suci itulah yang seharusnya mendoakannya. Lelaki itu terus mendesak. Uwais bertanya, apakah ia bertemu Umar? Benar, katanya. Maka Uwais pun memohonkan ampun untuknya.

Setelah itu orang-orang mulai mengetahui siapa dia sebenarnya. Uwais meninggalkan tempat itu dan pergi. Ia tidak mau dikenal.

Dalam seluruh riwayat itu, Uwais tak disebut memimpin pasukan, tak disebut mengajar ratusan murid, tak disebut menaklukkan kota. Keistimewaan yang disebut hanyalah baktinya kepada ibunya.

💖 Pesan Moral

  • Berbakti kepada orang tua bisa mengangkat derajat seseorang melampaui jabatan dan kemasyhuran.
  • Kemuliaan tidak butuh diumumkan. Uwais menjauh tepat ketika orang mulai mengenalnya.
  • Orang besar tidak malu meminta doa dari orang kecil. Umar tidak merasa jabatannya terlalu tinggi untuk memintanya.
  • Tak semua surat rekomendasi perlu diterima. Ada orang yang memilih tempat tinggal yang tenang dibanding pintu yang terbuka.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari riwayat Usair bin Jabir tentang Uwais al-Qarni dalam Sahih Muslim, hadis nomor 2542.