Harta Karun di Ladang Anggur
Anak-anak petani menggali ladang mencari harta karun. Ilustrasi J. J. Grandville (1838). Gambar: J. J. Grandville · Public domain · sumber
Seorang petani tua telah bekerja keras di ladang anggurnya sepanjang hidup. Berkat kerja kerasnya, ladang itu selalu subur dan hasilnya cukup untuk menghidupi keluarganya dengan layak.
Ia mempunyai tiga anak laki-laki. Sayangnya, ketiga anak itu malas. Mereka lebih suka tidur sampai siang, nongkrong di kedai, dan bersenang-senang daripada membantu ayah mereka di ladang. Setiap kali diajak bekerja, ada saja alasan mereka.
Sang ayah sering memikirkan masa depan mereka. “Kalau aku sudah tiada, apa yang akan terjadi dengan ladang ini? Apa yang akan terjadi dengan anak-anakku?”
Ketika merasa ajalnya sudah dekat, petani itu memanggil ketiga anaknya ke samping tempat tidurnya.
“Anak-anakku,” katanya dengan suara lemah, “aku akan segera meninggalkan kalian. Tetapi sebelum pergi, aku ingin memberitahukan sebuah rahasia. Di dalam ladang anggur kita, tersembunyi sebuah harta karun. Carilah, dan kalian akan menemukannya.”
Ketiga anak itu saling pandang dengan mata berbinar. “Di mana tepatnya, Ayah? Di bagian mana?”
Tetapi sang ayah hanya tersenyum, memejamkan mata, dan tak lama kemudian ia pun berpulang.
Setelah masa berkabung selesai, ketiga bersaudara itu segera mengambil cangkul dan sekop. Mereka pergi ke ladang dan mulai menggali. Mereka menggali di bawah setiap tanaman anggur, di sepanjang setiap baris, di setiap sudut ladang. Mereka membalik tanah dari ujung ke ujung, sedalam-dalamnya.
Berhari-hari mereka bekerja dari pagi sampai sore. Tangan mereka melepuh, punggung mereka pegal, tetapi mereka tidak berhenti. Bayangan peti penuh emas membuat mereka terus bersemangat.
Akhirnya, seluruh ladang sudah mereka gali. Tetapi tidak ada harta karun. Tidak ada peti, tidak ada emas, tidak ada sekeping uang pun. Mereka duduk di pematang dengan kecewa. “Apakah Ayah membohongi kita?”
Namun ketika musim panen tiba, terjadilah sesuatu yang mengejutkan. Karena tanahnya telah digemburkan dengan begitu baik, tanaman-tanaman anggur itu tumbuh lebih subur daripada sebelumnya. Buahnya lebat, besar, dan manis. Panen tahun itu adalah yang terbaik yang pernah dihasilkan ladang tersebut.
Mereka menjual anggur itu dan mendapatkan uang yang banyak sekali. Saat menghitung uang itu, si sulung tiba-tiba tertawa sambil berlinang air mata.
“Sekarang aku mengerti,” katanya kepada kedua adiknya. “Ayah tidak berbohong. Harta karun itu memang ada di ladang ini. Harta itu adalah kerja keras kita sendiri.”
Sejak saat itu, ketiga bersaudara itu menjadi petani yang rajin, dan ladang anggur ayah mereka tetap subur dari tahun ke tahun.
💖 Pesan Moral
- Kerja keras adalah harta karun yang sesungguhnya.
- Tidak ada jalan pintas menuju keberhasilan; hasil yang baik lahir dari usaha yang tekun.
- Orang tua yang bijak mewariskan kebiasaan baik, bukan hanya harta benda.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Petani dan Anak-anaknya”, yang juga digubah oleh Jean de La Fontaine dalam “Le Laboureur et ses Enfants”.