Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Gadis Penjual Korek Api

3 menit baca

Dalam nyala korek api, ia melihat pohon Natal yang megah. Gambar: Hans Tegner · Public domain · sumber

Malam itu adalah malam terakhir di penghujung tahun. Udara sangat dingin, salju turun tanpa henti, dan hari mulai gelap. Di jalanan kota yang sepi, berjalanlah seorang gadis kecil miskin. Kepalanya tidak bertutup, kakinya telanjang. Tadi ia memakai sandal kebesaran milik ibunya, tetapi sandal itu terlepas ketika ia berlari menghindari kereta kuda yang melaju kencang.

Di dalam celemek tuanya ia membawa banyak korek api, dan seikat lagi di tangannya. Sepanjang hari tak seorang pun membeli darinya. Tak seorang pun memberinya sekeping uang pun. Ia lapar, kedinginan, dan takut pulang, karena ayahnya pasti akan memarahinya. Lagi pula di rumah pun sama dinginnya, sebab atapnya penuh celah dan angin masuk ke mana-mana.

Dari jendela-jendela rumah terpancar cahaya lampu, dan tercium aroma angsa panggang. Gadis kecil itu duduk meringkuk di sudut antara dua rumah. Tangannya hampir beku. “Mungkin satu batang korek api bisa menghangatkan jariku,” pikirnya.

Ia menggores satu batang. Api menyala hangat dan terang, seperti lilin kecil. Dalam cahayanya, ia merasa seakan sedang duduk di depan tungku besi yang besar dan hangat. Ia mengulurkan kaki untuk menghangatkannya, tetapi api padam, dan tungku itu lenyap.

Ia menggores batang kedua. Cahayanya membuat tembok menjadi tembus pandang, dan ia melihat ke dalam sebuah ruangan dengan meja penuh hidangan: piring porselen, angsa panggang berisi apel dan buah prem. Lalu api padam, dan yang tersisa hanya tembok yang dingin.

Batang ketiga menyala, dan ia duduk di bawah pohon Natal yang jauh lebih indah daripada yang pernah ia lihat di etalase toko. Ribuan lilin berkelip di dahannya. Ia mengulurkan tangan, api padam, dan lilin-lilin itu naik semakin tinggi hingga menjadi bintang-bintang di langit. Salah satunya jatuh, meninggalkan garis cahaya panjang.

“Ada seseorang yang meninggal,” bisiknya. Neneknya, satu-satunya orang yang pernah menyayanginya, pernah berkata bahwa bila sebuah bintang jatuh, ada jiwa yang naik kepada Tuhan.

Ia menggores batang lagi, dan dalam cahayanya berdirilah neneknya, tersenyum lembut. “Nenek!” seru gadis itu. “Bawa aku bersamamu! Aku tahu Nenek akan hilang kalau apinya padam.” Cepat-cepat ia menyalakan semua korek api yang tersisa, agar neneknya tetap di sana. Cahayanya terang benderang. Neneknya memeluknya, dan bersama-sama mereka terbang tinggi, ke tempat yang tidak ada lagi dingin, lapar, dan takut.

Pagi harinya, orang-orang menemukan gadis kecil itu di sudut jalan, dengan pipi kemerahan dan senyum di bibirnya. Di tangannya tergenggam batang-batang korek api yang sudah terbakar. “Ia mencoba menghangatkan diri,” kata mereka. Tak seorang pun tahu keindahan apa yang telah ia lihat semalam.

💖 Pesan Moral

  • Jangan menutup mata terhadap penderitaan orang kecil di sekitar kita. Satu pembelian, satu sapaan, satu kepedulian bisa berarti sangat besar.
  • Kasih sayang adalah kehangatan yang paling dicari, lebih dari makanan dan api.
  • Merayakan kebahagiaan akan lebih bermakna bila kita ingat pada mereka yang tidak punya apa-apa.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng Hans Christian Andersen, “Gadis Penjual Korek Api” (1845).