Mohammad Hatta dan Sepatu yang Tak Terbeli
Mohammad Hatta sekitar tahun 1950-an. Gambar: Pemerintah Republik lndonesia (government of republic of indonesian) · Public domain · sumber
Pada 1950-an, Bally adalah merek sepatu bermutu tinggi yang terkenal di Indonesia, dan harganya tidak murah. Menurut kisah yang banyak diceritakan di Indonesia, seorang pejabat tinggi negara suatu hari membaca iklan sepatu itu di koran. Ia ingin memilikinya, tetapi uangnya belum cukup. Maka ia menggunting iklan yang memuat alamat penjualnya dan menyimpan guntingan itu. Pejabat itu adalah Mohammad Hatta, Wakil Presiden Republik Indonesia.
Hatta lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902. Ia belajar di Belanda, dibuang pemerintah kolonial, dan bersama Sukarno menandatangani Proklamasi Kemerdekaan. Dari pasangan dua proklamator itu, ia dikenal sebagai yang tenang, tertib, dan sangat berhati-hati dengan uang.
Kisah sepatu itu berlanjut begini. Hatta berusaha menabung, tetapi tabungannya tak pernah mencukupi. Uang itu selalu terpakai untuk kebutuhan rumah tangga, atau untuk menolong kerabat dan kenalan yang datang meminta bantuan. Tahun demi tahun lewat. Pada 1955 ia menyatakan niat mundur dari kursi wakil presiden, dan setahun kemudian ia benar-benar melepas jabatan itu. Di permukaan alasannya praktis: jabatan itu menurutnya kurang berguna dan negara hanya menghabiskan uang untuk menggajinya. Namun ia juga kecewa melihat pemerintahan yang makin otoriter.
Ia wafat di Jakarta pada 14 Maret 1980 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Tanah Kusir. Tidak lama sesudah itu, demikian menurut kisah tersebut, keluarganya menemukan lipatan kertas lama di dalam dompetnya. Isinya guntingan iklan sepatu Bally. Sepatu itu tidak pernah terbeli.
Patut dikatakan terus terang: cerita ini adalah riwayat populer. Kisahnya dimuat antara lain dalam buku Untuk Republik: Kisah-Kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa karya Faisal Basri dan Haris Munandar, lalu diulang berbagai media. Kami tidak menemukan dokumen asli atau kutipan langsung dari keluarga yang bisa memastikannya.
Ada satu cerita lain yang juga sering disampaikan, kali ini tentang istrinya. Rahmi menabung lama untuk membeli mesin jahit. Sebelum niat itu tercapai, pemerintah memotong nilai uang, sehingga tabungan itu tak lagi cukup. Rahmi kecewa karena suaminya tidak memberi tahu sebelumnya, sedangkan Hatta berpegang bahwa kebijakan itu rahasia negara yang tak boleh dibocorkan, bahkan kepada istri sendiri. Rincian tahun dan besar pemotongannya berbeda-beda di berbagai sumber, sehingga kami tidak dapat memastikannya.
Apakah semua rinciannya persis seperti itu atau tidak, ada sebabnya mengapa cerita semacam ini melekat pada nama Hatta dan terasa masuk akal bagi orang Indonesia. Ia dikenang sebagai orang yang memisahkan dengan keras apa yang menjadi miliknya dan apa yang menjadi milik negara.
💖 Pesan Moral
- Kedudukan tinggi tidak otomatis berarti boleh mengambil lebih. Yang dikenang dari cerita ini ialah keinginan yang ditahan, karena pemiliknya tak mau memakai jalan pintas.
- Menolong orang lain punya harga. Tabungan yang terus terpakai untuk kerabat adalah pilihan, bukan kesialan.
- Rahasia jabatan tetap rahasia, juga di meja makan keluarga, meski taruhannya perasaan orang tercinta.
- Cerita teladan pun layak ditanya sumbernya. Menghormati seorang tokoh termasuk berhati-hati dengan apa yang kita katakan tentang dia.
Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Mohammad Hatta. Kisah sepatu Bally dan tabungan mesin jahit adalah riwayat populer yang dimuat buku dan media Indonesia, bukan fakta yang terdokumentasi secara primer.