Ladang Berlian Ali Hafed
Gravir lama tentang pencucian berlian di Golconda. Gambar: A Nutshell of Knowledge Concerning the Mine, 1830 AD, pages 36-37, by: Isaac Taylor, publisher is John Harris (publisher) · Public domain · sumber
Tidak jauh dari Sungai Indus, tinggallah seorang Persia bernama Ali Hafed. Tanahnya luas, kebun buahnya lebat, ladang gandumnya subur, dan uangnya berbunga di mana-mana. Ia punya istri dan anak-anak yang ia sayangi. Ia kaya karena ia merasa cukup, dan ia merasa cukup karena ia kaya.
Suatu hari, seorang pendeta tua datang bertamu. Sambil duduk di dekat perapian, pendeta itu bercerita tentang asal-usul dunia dan batu-batu di dalamnya, sampai tiba pada berlian. Menurutnya, berlian ibarat setetes cahaya matahari yang membeku. Sebutir sebesar ibu jari bisa membeli seluruh daerah itu, dan siapa yang punya tambangnya bisa mendudukkan anak-anaknya di atas takhta.
Malam itu Ali Hafed berbaring dengan mata terbuka. Tanahnya tidak berkurang sejengkal pun, tetapi ia merasa miskin. Ia miskin karena tidak puas, dan tidak puas karena takut miskin.
Pagi-pagi sekali ia membangunkan pendeta itu.
“Di mana saya bisa menemukan berlian?”
“Berlian? Untuk apa?”
“Saya ingin kaya raya.”
“Kalau begitu, pergilah mencarinya,” jawab si pendeta. “Carilah sungai yang mengalir di atas pasir putih di antara gunung-gunung tinggi. Di pasir itu akan engkau temukan berlian.”
Ali Hafed menjual ladangnya, menitipkan keluarganya kepada tetangga, lalu berangkat. Ia menjelajahi Pegunungan Bulan, turun ke Palestina, dan menyeberang ke Eropa. Tahun demi tahun bekal habis dan pakaiannya menjadi compang-camping. Ia tiba di tepi teluk Barcelona dalam keadaan papa dan patah semangat, dan di sanalah perjalanannya berakhir. Ia tak pernah pulang.
Sementara itu, orang yang membeli tanahnya membawa untanya minum ke sungai kecil di kebun. Ketika hewan itu menunduk, ia melihat kilau aneh dari dasar air yang dangkal. Ia memungut sebuah batu hitam dengan titik cahaya yang berpendar seperti pelangi, membawanya pulang, lalu menaruhnya di atas perapian dan melupakannya.
Beberapa hari kemudian pendeta tua itu datang lagi. Begitu masuk, ia terpaku memandang batu tersebut.
“Ini berlian! Apakah Ali Hafed sudah pulang?”
“Belum. Itu hanya batu dari kebun saya.”
“Saya tahu berlian kalau melihatnya,” kata sang pendeta. “Ini berlian.”
Berdua mereka berlari ke kebun dan mengaduk pasir sungai itu dengan tangan. Muncullah batu-batu lain yang lebih indah. Menurut cerita ini, begitulah tambang berlian Golconda ditemukan, di tanah yang dahulu dijual oleh Ali Hafed.
💖 Pesan Moral
- Periksa dulu halaman sendiri. Sebelum menjual semua untuk mengejar yang jauh, pastikan kita sudah mengenal apa yang kita miliki.
- Rasa cukup bisa hilang dalam semalam. Hartanya tidak berkurang sebelum dan sesudah tamu itu datang; yang berubah hanya perbandingan di kepalanya.
- Peluang sering berwujud batu hitam biasa. Berlian di kebun itu tidak terlihat seperti yang dibayangkan orang, dan perlu kesediaan untuk memungutnya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah dalam ceramah terkenal Acres of Diamonds oleh Russell H. Conwell (1843–1925), pendiri Temple University, yang mengaku mendengarnya dari seorang pemandu Arab tua di tepi Sungai Tigris. Ini kisah perumpamaan, bukan catatan sejarah penemuan Golconda.