Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Putri Pinang Masak dan Ringgit di Pagar Bambu

3 menit baca

Pohon pinang, tumbuhan yang menjadi nama sang putri. Gambar: Brandt, Wilhelm; Gürke, M.; Köhler, F. E.; Pabst, G.; Schellenberg, G.; Vogtherr, Max. · Public domain · sumber

Di belakang Dusun Pasir Mayang, kata orang tua di Jambi, dulu berdiri sebuah kerajaan bernama Limbungan. Ratunya bernama Putri Reno Pinang Masak. Raja-raja dan putra-putra raja datang dari berbagai negeri untuk meminangnya, dan satu per satu pulang dengan tangan kosong. Ia lebih suka mengurus negerinya.

Dalam memerintah, ia dibantu tiga hulubalang pilihan. Datuk Raja Penghulu dikenal paling bijak. Datuk Dengar Kitab konon sanggup membaca kejadian yang akan datang dari sebuah kitab. Datuk Mangun menjadi panglima perang. Selama ketiganya didengar, Limbungan aman.

Suatu ketika datang pinangan dari seorang raja di Jawa. Seperti yang lain, pinangan itu ditolak. Namun raja yang satu ini tidak pulang begitu saja. Ia mengirim ancaman: Limbungan akan diserang.

Sang ratu tidak panik. Ia memerintahkan rakyatnya menggali parit dan menanami sekeliling kerajaan dengan pagar bambu yang rapat. Hanya tersisa satu jalan untuk keluar dan masuk. Ketika pasukan penyerang tiba, mereka terhalang rumpun bambu berduri dan parit dalam, sementara satu-satunya jalan masuk dijaga ketat. Serangan pertama gagal, dan serangan berikutnya gagal pula.

Berhari-hari raja itu memandangi pagar bambu dari perkemahannya. Ia sadar benteng itu tidak bisa ditembus dengan kekerasan. Lalu terlintas sebuah gagasan yang licik.

Pada suatu pagi, penduduk Limbungan melihat sesuatu yang berkilat di tepi pagar. Di sela-sela rumpun bambu, dan di tanah di bawahnya, berserakan uang ringgit logam. Rupanya pada malam hari orang-orang raja itu melemparkannya ke sana. Satu orang memungut, lalu datang orang lain. Berita itu menyebar cepat. Banyak uang masih tersangkut di bagian yang rapat dan sulit dijangkau.

Kabar tersebut sampai ke istana, dan kilau uang itu terlihat pula oleh sang ratu. Rakyat ingin memungutnya. Barangkali ia berpikir, tidak ada salahnya. Musuh sudah lama tidak menyerang. Uang sebanyak itu bisa berguna bagi negeri.

Ia memerintahkan agar pagar bambu dihancurkan supaya ringgit-ringgit itu dapat diambil.

Dalam sehari, dinding yang telah menyelamatkan kerajaannya berkali-kali itu rebah di tangan rakyatnya sendiri. Orang-orang bersorak sambil mengumpulkan logam. Tidak lama kemudian, pasukan yang menunggu di balik hutan bergerak. Tidak ada lagi yang menghalangi mereka. Limbungan jatuh.

Sang ratu tidak menyalahkan siapa pun selain dirinya. Dengan hati hancur ia meninggalkan kerajaan diam-diam, seorang diri, berjalan entah ke mana tanpa pengawal dan tanpa tanda kebesaran.

Beberapa waktu kemudian, seorang petani yang sedang beristirahat menemukan seorang perempuan cantik terbaring tak bernyawa. Tidak ada yang mengenalinya, sampai akhirnya diketahui bahwa dialah Tuan Putri Reno Pinang Masak, ratu negeri Limbungan.

Petani dan warga desa bersedih membayangkan akhir hidupnya yang sengsara. Mereka memakamkannya di Desa Tenaku, dan makamnya dinamai Makam Upih Jatuh.

💖 Pesan Moral

  • Waspadai keuntungan yang datang terlalu mudah. Uang yang tergeletak di depan benteng jarang sekali gratis.
  • Jangan membongkar yang melindungimu demi hasil sesaat. Sekali pagar rebah, ringgit tidak bisa menggantikannya.
  • Kemenangan besar bisa membuat lengah. Pertahanan yang berhasil berkali-kali justru bisa membuat orang lupa mengapa ia dibangun.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Putri Reno Pinang Masak dari Limbungan, Jambi. Nama Putri Pinang Masak juga dipakai dalam legenda lain yang berbeda alurnya, di Jambi maupun Sumatra Selatan.