Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Ibrahim bin Adham Mencari Unta di Atap

3 menit baca

Ibrahim bin Adham setelah meninggalkan takhta, dalam lukisan gaya Mughal: duduk di bawah pohon dan didatangi malaikat. Gambar: Mughal Style · Public domain · sumber

Di kota Balkh, kata Fariduddin Attar, pernah bertakhta seorang raja bernama Ibrahim bin Adham. Empat puluh pedang emas dan empat puluh gada emas dibawa di depan dan di belakangnya setiap kali ia berjalan. Seluruh negeri tunduk kepadanya. Ia tidur di atas ranjang keemasan, berselimut sutra, dan tak pernah kekurangan apa pun.

Suatu tengah malam ia terbangun. Atap kamarnya bergetar, seolah-olah ada orang yang berjalan di atasnya.

“Siapa di sana?” serunya.

“Seorang kawan,” jawab suara dari atas. “Untaku hilang, dan aku sedang mencarinya di atap ini.”

Raja itu hampir tertawa karena marah. “Bodoh! Mana ada orang mencari unta di atas atap?”

Suara itu menjawab, tenang dan menusuk.

“Wahai orang yang lalai, kamu mencari Tuhan dengan baju sutra di atas ranjang emas?”

Ibrahim tidak bisa tidur lagi sampai pagi. Sesuatu seperti api menyala di dadanya. Esoknya ia duduk di singgasana seperti biasa, para menteri berdiri di tempatnya, para hamba berbaris. Namun pikirannya tertinggal di kamar tidur.

Lalu seorang lelaki berwibawa masuk ke balairung. Wajahnya begitu menggetarkan sehingga tak seorang pengawal pun berani menanyakan namanya. Ia melangkah hingga berdiri tepat di depan takhta.

“Apa maumu?” tanya sang raja.

“Aku baru saja singgah di penginapan ini,” jawab lelaki itu.

“Ini bukan penginapan. Ini istanaku! Kamu sudah gila.”

“Siapa pemilik istana ini sebelum engkau?”

“Ayahku.”

“Sebelum dia?”

“Kakekku.”

Lelaki itu terus bertanya, dan sang raja terus menyebut nama demi nama leluhurnya, sampai ia kehabisan.

“Di mana mereka semua sekarang?”

“Sudah pergi. Sudah meninggal.”

“Kalau begitu, bukankah ini sebuah penginapan, tempat yang satu masuk dan yang lain keluar?”

Setelah berkata begitu, tamu itu menghilang. Menurut Attar, dialah Khidir. Kegelisahan Ibrahim bertambah parah. Untuk menenangkan diri ia berangkat berburu, memacu kudanya jauh ke padang tanpa tujuan. Di tengah kesepian itu, ia mendengar seruan yang meminta ia terjaga, berulang sampai empat kali. Seekor rusa melompat di depannya, dan ketika ia bersiap mengejar, hatinya mendengar pertanyaan: untuk inikah engkau diciptakan?

Hari itu juga, sang raja Balkh menanggalkan pakaian kebesarannya. Ia menukarnya dengan pakaian kasar seorang penggembala dan berjalan pergi meninggalkan negerinya. Sejak itu, nama yang dikenang orang bukan lagi nama seorang raja, tetapi nama salah satu sufi paling awal yang dihormati dalam sejarah Islam.

💖 Pesan Moral

  • Tanyakan apakah caramu cocok dengan tujuanmu. Orang mudah melihat kekeliruan orang lain mencari unta di atap, tetapi sulit melihat kekeliruan sendiri.
  • Semua yang kita miliki hanya titipan sementara. Rumah, jabatan, dan warisan pernah menjadi milik orang lain dan kelak berpindah lagi.
  • Peringatan sering datang lebih dari sekali. Yang menentukan adalah kapan kita berhenti pura-pura tidak mendengar.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah pertobatan Ibrahim bin Adham dalam Tadhkirat al-Awliya karya Fariduddin Attar.