Serigala Biru
Serigala emas dalam litografi lama. Warnanya masih warna asli, belum sempat tercebur ke tong nila. Gambar: Jacques Christophe Werner / Charles Philibert de Lasteyrie · Public domain · sumber
Lapar bisa membuat seekor serigala nekat. Serigala dalam kisah ini tinggal di gua di pinggiran kota, dan pada suatu malam perutnya begitu perih sampai ia berani masuk ke jalan-jalan kota untuk mencari makan.
Anjing-anjing kota segera mencium baunya. Mereka menyerbu dari segala arah, menggonggong dan menggigit kakinya. Serigala itu berlari tak tentu arah, berbelok ke sana kemari, lalu menerobos masuk ke rumah seorang tukang celup. Di dalam rumah itu terdapat tong besar berisi air nila. Ia tersandung dan tercebur ke dalamnya.
Anjing-anjing kehilangan jejaknya dan pulang. Dengan susah payah, serigala itu memanjat keluar dari tong dan menyelinap kembali ke hutan.
Sesampainya di hutan, ia merasa ada yang aneh. Setiap binatang yang melihatnya langsung lari. Kijang, kera, kelinci, bahkan harimau dan singa menjaga jarak sambil berbisik ketakutan.
“Makhluk apa itu? Warnanya belum pernah kita lihat. Entah dari mana datangnya, entah seberapa kuat dia. Lebih baik kita menjauh.”
Serigala itu menunduk dan melihat bulunya yang biru pekat. Ia juga melihat rasa takut di mata para penghuni hutan. Dalam sekejap, otaknya bekerja.
“Hai, kalian semua!” serunya. “Mengapa lari? Dewa Indra melihat bahwa hutan ini tidak punya raja, maka aku diutus untuk memimpin kalian. Berlindunglah di bawah cakarku yang perkasa.”
Singa, harimau, macan tutul, kera, kelinci, dan kijang berkumpul, lalu membungkuk. “Tuanku, berilah kami perintah.”
Serigala biru membagi jabatan layaknya raja sungguhan. Singa diangkat menjadi perdana menteri. Harimau menjaga kamar tidur. Macan tutul mengurus sirih raja. Gajah menjadi penjaga pintu, dan kera memegang payung kebesaran.
Hanya ada satu golongan yang tidak mendapat tempat, yaitu sesama serigala. Mereka bisa mengenalinya, dan itu berbahaya. Maka sang raja menyuruh mereka dipukul dan diusir jauh-jauh dari istananya.
Hari-hari berlalu dengan enak. Singa dan harimau berburu, lalu meletakkan hasilnya di hadapan sang raja, dan sang raja membaginya dengan penuh wibawa.
Suatu senja, ketika ia sedang duduk di tengah para menterinya, dari kejauhan terdengar lolongan sekawanan serigala. Suara itu panjang dan tinggi, suara yang ia kenal sejak masih anak-anak.
Seluruh tubuhnya bergetar. Matanya basah oleh rasa haru. Sebelum sempat berpikir, ia sudah melompat berdiri, mendongakkan kepala, dan melolong sekeras-kerasnya.
Balairung mendadak sunyi. Singa dan harimau saling berpandangan. Sejenak mereka tertunduk malu.
“Dia cuma serigala,” geram salah satunya. “Selama ini kita ditipu oleh seekor serigala!”
Serigala biru berusaha melarikan diri, tetapi harimau lebih cepat, dan riwayat sang raja berakhir di situ.
💖 Pesan Moral
- Warna bisa dicelup, watak tidak. Kedudukan dan penampilan bisa dipinjam, tetapi diri yang asli akan keluar pada saat yang tidak kita duga.
- Jangan membuang orang-orang yang mengenal kita. Serigala itu mengusir kaumnya sendiri demi menjaga rahasia, dan justru suara mereka yang membongkarnya.
- Orang yang tampak hebat belum tentu layak ditakuti. Para penghuni hutan tunduk hanya karena warna yang asing. Mereka tidak pernah bertanya siapa yang sebenarnya berdiri di depan mereka.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah “Serigala Biru” dalam Panchatantra, Buku I (Perpecahan Sahabat).