Gagak Pelangi
Bulunya kini hitam, tetapi berkilau pelangi saat terkena cahaya. Gambar: Jacob W. Frank · Public domain · sumber
Dahulu kala, sebelum manusia datang ke bumi, belum ada musim dingin. Udara selalu hangat, dan para hewan hidup bahagia. Di antara mereka ada seekor burung gagak yang sangat cantik. Bulunya berwarna-warni seperti pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu yang berkilauan. Suaranya pun merdu, dan setiap kali ia bernyanyi, hewan-hewan lain berhenti untuk mendengarkan.
Suatu hari, angin mulai bertiup dingin. Lalu turunlah butiran-butiran putih dari langit. Itulah salju yang pertama. Mula-mula para hewan senang bermain dengannya. Tetapi salju terus turun, hari demi hari, semakin tebal dan semakin dingin. Hewan-hewan kecil mulai tenggelam di dalamnya. Tikus, kelinci, dan rakun tidak bisa lagi mencari makan.
Para hewan berkumpul dan bermusyawarah. “Harus ada yang pergi menemui Sang Pencipta di atas langit,” kata mereka. “Mungkin Ia mau menghentikan salju ini.” Tetapi siapa yang sanggup terbang setinggi itu? Burung hantu takut silau, elang terlalu sibuk, dan yang lain terlalu lemah.
Akhirnya si Gagak Pelangi berkata, “Aku yang akan pergi.”
Ia terbang tinggi, melewati awan, melewati bulan, melewati bintang-bintang, selama tiga hari tiga malam, sampai tiba di tempat Sang Pencipta. Di sana ia bernyanyi dengan suaranya yang paling merdu, dan Sang Pencipta senang mendengarnya.
“Apa yang kau inginkan, burung kecil?”
“Teman-temanku di bumi kedinginan. Salju akan mengubur mereka. Tolonglah hentikan salju itu.”
Sang Pencipta berkata dengan lembut, “Salju dan dingin punya jiwanya sendiri. Aku tidak bisa menghentikannya. Tetapi aku bisa memberimu sesuatu.” Ia lalu mencelupkan sebatang ranting ke dalam matahari, hingga ujungnya menyala. “Inilah api. Bawalah ke bumi, dan teman-temanmu akan tetap hangat.”
Gagak itu menggigit ranting yang menyala dan terbang turun ke bumi. Perjalanan pulang memakan waktu berhari-hari. Api di ranting itu semakin dekat ke kepalanya. Bunga api memercik ke ekornya, dan bulu-bulunya yang indah mulai hangus. Asap memenuhi tenggorokannya. Tetapi ia tidak melepaskan ranting itu.
Ketika akhirnya tiba di bumi, ia menjatuhkan api itu di tengah salju. Salju di sekitarnya mencair, dan para hewan berkumpul menghangatkan diri. Mereka selamat.
Tetapi gagak itu telah berubah. Bulunya yang berwarna pelangi kini hitam legam karena jelaga. Suaranya yang merdu kini serak dan parau karena asap. Ia hanya bisa bersuara, “Gaak! Gaak!” Ia menyendiri dan menangis.
Sang Pencipta melihatnya dan turun menghiburnya. “Kau telah berkorban demi sahabat-sahabatmu. Lihatlah bulumu baik-baik.” Gagak itu memperhatikan, dan ia melihat bahwa di bawah cahaya, bulu hitamnya berkilauan memantulkan semua warna pelangi. “Bulumu kini menyimpan semua warna,” kata Sang Pencipta, “dan karena suaramu tak lagi merdu, tak ada yang akan memburumu untuk dikurung. Kau akan selalu bebas.”
💖 Pesan Moral
- Pengorbanan demi sesama adalah keindahan yang tidak terlihat oleh mata.
- Keberanian sejati sering datang dari mereka yang rela kehilangan sesuatu yang berharga.
- Kemuliaan seseorang tidak terletak pada penampilannya, melainkan pada apa yang telah ia berikan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda yang dikenal sebagai kisah suku Lenape (Delaware) di Amerika Utara, dipopulerkan lewat buku bergambar “Rainbow Crow” karya Nancy Van Laan (1989); keaslian asal-usulnya sebagai cerita tradisional masih diperdebatkan.