Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Hoca dan Tepung di Tali Jemuran

2 menit baca

Patung Nasreddin Hoca di Eskisehir, Turki. Gambar: Zeynel Cebeci · CC BY-SA 4.0 · sumber

Di kampung Nasreddin Hoca, semua orang tahu bahwa Hoca adalah tetangga yang baik. Pintunya selalu terbuka. Kalau ada yang butuh nasihat, ia memberikannya. Kalau ada yang kesusahan, ia ikut mencari jalan keluar. Tetapi Hoca juga manusia biasa, dan setiap orang baik punya batas kesabarannya.

Di sebelah rumahnya tinggal seorang tetangga yang gemar meminjam. Hari ini ia meminjam ember, besok kapak, lusa tangga. Sebagian barang itu kembali dalam keadaan rusak, sebagian kembali setelah diminta, dan sebagian lagi seperti lupa jalan pulang. Tali jemuran Hoca termasuk barang yang paling sering dipinjam, dan terakhir kali dikembalikan, tali itu kotor dan penuh sambungan.

Suatu pagi yang cerah, Hoca sedang duduk di halaman ketika terdengar suara dari balik pagar.

“Hoca Efendi! Selamat pagi! Istriku mencuci banyak sekali hari ini. Bolehkah kami meminjam tali jemuranmu?”

Hoca melirik tali yang terentang di halamannya. Tali itu kosong dan bersih, tergantung di antara dua tiang tanpa beban apa pun. Ia menarik napas. Lalu ia bangkit dengan sopan.

“Tunggu sebentar, ya. Saya tanyakan dulu kepada istri saya.”

Ia masuk ke dalam rumah. Di dapur, ia minum segelas air, memandang ke luar jendela, dan menghitung sampai beberapa puluh. Istrinya menoleh dengan heran, tetapi Hoca hanya tersenyum. Setelah merasa waktunya cukup, ia keluar lagi dan menghampiri pagar dengan wajah menyesal.

“Maaf sekali, tetanggaku. Istri saya bilang tali itu tidak bisa dipinjamkan hari ini. Kami sudah menaburkan tepung di atasnya.”

Tetangganya mengerutkan dahi. Ia memandang tali jemuran itu, lalu memandang Hoca. Ia pikir ia salah dengar.

“Tepung? Di tali jemuran? Maaf, Hoca, tapi siapa orangnya yang menaburkan tepung di tali jemuran? Kapan pula orang melakukan hal seperti itu?”

Hoca mengangguk tenang, seperti guru yang mendengar pertanyaan yang sudah lama ia tunggu.

“Kapan?” katanya sambil tersenyum. “Saat ada orang lain yang ingin meminjamnya.”

Tetangga itu terdiam. Beberapa saat lamanya ia hanya berdiri di balik pagar. Wajahnya memerah. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya bergerak juga. Ia menggeleng, mengangkat tangan tanda menyerah, dan pulang ke rumahnya sambil tertawa kecil. Sore itu, ia mengembalikan ember Hoca yang sudah dipinjamnya sebulan.

Orang Turki masih memakai ungkapan ipe un sermek, “menabur tepung di tali”, untuk menyebut alasan yang dibuat-buat demi menolak permintaan.

💖 Pesan Moral

  • Menolak boleh saja, asal tetap ramah. Hoca berkata tidak tanpa membuat tetangganya kehilangan muka.
  • Kalau selalu dipinjami, rawatlah barang orang. Dengan begitu, kita tidak perlu mendengar alasan tentang tepung.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot Nasreddin Hoca, Turki, salah satu versi.