Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Bujang Beji dan Bukit Kelam

3 menit baca

Bukit Kelam di Sintang, Kalimantan Barat, batu raksasa yang menurut legenda dijatuhkan Bujang Beji. Gambar: Zhilal Darma · CC BY-SA 4.0 · sumber

Dari Kota Sintang di Kalimantan Barat, sebuah bukit batu raksasa terlihat menjulang sendirian, berwarna gelap dan curam. Orang menyebutnya Bukit Kelam. Tidak jauh dari sana Sungai Kapuas dan Sungai Melawi bertemu, dan orang Sintang punya cerita tentang bagaimana batu sebesar itu sampai di tengah dataran.

Dahulu dua orang menguasai dua aliran sungai. Bujang Beji memegang Simpang Kapuas, sedangkan Temenggung Marubai memegang Simpang Melawi. Keduanya hidup dari ikan.

Temenggung Marubai dikenal murah hati dan menangkap ikan secukupnya. Sungainya pun selalu berlimpah. Orang-orang datang kepadanya, dan ikan-ikan seolah tidak ada habisnya.

Bujang Beji lain lagi. Ia ingin tangkapan cepat dan banyak, jadi ia menuba sungai dengan racun. Hasilnya memang langsung terlihat. Ikan mengapung berlimpah, muda maupun tua. Lama-lama sungainya kosong. Ia melihat Melawi yang tetap penuh dan rasa irinya memuncak.

“Kalau sungainya kututup,” pikirnya, “tidak akan ada lagi orang yang membandingkan kami.”

Rencananya sebesar keserakahannya. Ia akan membawa puncak bukit batu dari Nanga Silat dan menjatuhkannya di muara Melawi. Dengan kesaktiannya ia memotong puncak itu, lalu memanggulnya berjalan melintasi hutan.

Di langit, para bidadari menonton lelaki kecil yang berjalan sempoyongan memanggul gunung itu, dan mereka tertawa. Bujang Beji mendengarnya. Ia mendongak dengan gusar, dan pada saat itu kakinya menginjak duri beracun.

Ia menjerit kesakitan. Batu raksasa itu lepas dari bahunya, jatuh berdebam, dan melesak ke dalam tanah, jauh dari muara yang dituju.

Dengan marah ia mencoba mengungkitnya menggunakan sebuah bukit panjang. Bukit itu patah, dan orang kini menyebut sisanya Bukit Liut. Batu itu tidak bergeser. Ia telah tertanam di sana, dan di sanalah ia berdiri sampai hari ini sebagai Bukit Kelam.

Orang lain mungkin akan berhenti. Bujang Beji malah melipatgandakan niatnya. Kalau para bidadari menertawakannya, ia akan naik ke langit dan menangkap mereka.

Ia menanam pohon kumpang mambu, dan dengan kesaktiannya pohon itu tumbuh menjulang menembus awan. Sebelum memanjat, ia mengadakan pesta untuk semua makhluk hutan. Hewan-hewan diberi makan supaya tidak mengganggu pohonnya. Tapi di tengah kesibukannya, ada yang terlupa: beruang dan rayap tidak diundang.

Bujang Beji mulai memanjat, tinggi dan semakin tinggi. Di bawah, rayap menggerogoti akar dan batang, sementara beruang mencakar-cakarnya. Mereka bekerja tanpa suara.

Ketika Bujang Beji sudah sangat tinggi, batang itu mengerang lalu rebah. Ia jatuh bersama pohonnya dari ketinggian, dan di situlah riwayatnya berakhir.

Temenggung Marubai tetap menjala di sungainya. Bukit Kelam masih berdiri di tengah dataran, terlihat dari jauh.

💖 Pesan Moral

  • Kekayaan alam habis bila dikuras dengan racun. Ikan yang ditangkap secukupnya bertahan lebih lama daripada tuba sekali panen.
  • Iri membuat orang sibuk merusak, bukan memperbaiki. Tenaga untuk memanggul gunung bisa dipakai memulihkan sungainya sendiri.
  • Jangan meremehkan yang kecil. Rayap yang tidak diundang merobohkan pohon yang menembus langit.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Sintang, Kalimantan Barat, tentang asal-usul Bukit Kelam.