Asal-Usul Burung Cenderawasih
Burung cenderawasih dalam lukisan John Gould dan William Hart, abad ke-19. Gambar: John Gould and W. Hart · CC0 · sumber
Burung cenderawasih yang terbang di hutan Papua sering membuat orang menahan napas. Bulunya berjuntai panjang, warnanya seperti tak sungguhan. Namun di Fakfak, ibu-ibu punya cerita yang membuat keindahan itu terasa agak sedih. Mereka menceritakannya saat bersantai atau saat anak-anak hendak tidur.
Dahulu ada seorang anak laki-laki bernama Kweiya. Ia hidup berdua dengan ibunya di hutan. Sejak kecil ia sudah terbiasa bekerja keras. Ia pandai membuka ladang dan membantu ibunya tanpa disuruh, dan hari-harinya berjalan damai.
Beberapa waktu kemudian, ibunya menikah dengan seorang lelaki yang datang ke hutan itu, dan dari keluarga baru itu muncullah saudara-saudara tiri. Kweiya menerima mereka dengan hati terbuka. Ia berbagi makanan dan mengajari mereka hal-hal yang ia tahu.
Namun kebaikan itu tidak dibalas dengan kebaikan. Setiap kali orang tua mereka memuji Kweiya, saudara-saudaranya merasa kecil. Pujian terhadap ladang yang rapi, buruan yang banyak, dan sikap Kweiya yang rajin terdengar di telinga mereka seperti cercaan. Iri hati tumbuh pelan-pelan dan berubah menjadi kebencian.
Suatu hari, ketika orang tua mereka pergi, saudara-saudara itu mengeroyok Kweiya. Mereka memukulinya sampai tubuhnya luka. Setelah puas, mereka meninggalkannya.
Kweiya merangkak ke sudut rumah. Ia tidak melawan dan tidak berteriak. Mungkin ia terlalu sakit, atau terlalu kecewa. Ia meraih serat kulit pohon yang ada di sana, yang disebut pogak nggein, dan mulai membalutkannya ke tubuhnya, lapis demi lapis, seperti orang yang ingin menutupi lukanya dari dunia.
Sore harinya, sang ibu pulang. Ia memanggil-manggil anaknya, tetapi tak ada jawaban. Rumah itu sepi. Ia mencari ke sudut-sudut, dan yang ia temukan hanyalah seekor burung aneh, yang tak pernah dilihatnya, dengan bulu-bulu panjang yang menjuntai seperti untaian serat.
Burung itu menatapnya, lalu berbunyi: “Eek, ek, ek, ek…”
Saat itulah ia mengerti. Ia memeluk tiang rumah dan menangis, memanggil nama putranya berkali-kali. Burung itu terbang ke dahan yang tinggi, berputar sekali di atas rumah, lalu menghilang ke dalam hutan.
Saudara-saudara tiri itu berdiri diam di halaman. Mereka tak bisa lagi memperbaiki apa yang telah mereka lakukan.
Sejak itulah, kata orang Fakfak, cenderawasih menghuni hutan Papua. Burung itu indah dan tak mudah didekati. Kalau kebetulan mendengar panggilannya yang nyaring di pagi hari, orang tua akan berkata kepada anak-anaknya untuk saling menjaga.
💖 Pesan Moral
- Iri hati bisa membuat kita kehilangan orang baik untuk selamanya. Yang sudah hilang tak bisa dibeli kembali dengan penyesalan.
- Orang tua perlu peka terhadap rasa cemburu antarsaudara, terutama di keluarga baru. Pujian pada satu anak bisa terasa pahit bagi yang lain.
- Luka hati kadang disembunyikan rapat-rapat. Anak yang diam dan menutup diri perlu didekati sebelum terlambat.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Kweiya, Fakfak, Papua Barat; salah satu versi. Nama tokoh pendamping dan rincian alurnya berbeda-beda dalam berbagai penuturan.