Nahum Ish Gamzu dan Peti Permata
Seorang tamu menghadap kaisar Romawi dalam gambar pena Federico Zuccari, mengingatkan pada Nahum di hadapan kaisar. Gambar: Federico Zuccari · CC0 · sumber
Ada seorang guru Yahudi bernama Nahum yang punya kebiasaan aneh. Apa pun yang menimpanya, ia selalu mengucapkan kalimat yang sama: gam zu letovah, ini pun untuk kebaikan. Karena kata-kata itu, orang menjulukinya Nahum Ish Gamzu. Menurut tradisi, ia kelak menjadi guru Rabbi Akiva.
Suatu ketika, orang-orang Yahudi perlu mengirim persembahan kepada kaisar untuk meredakan kemurkaannya. Siapa yang patut diutus? Mereka memilih Nahum, karena ia terkenal sering mengalami peristiwa yang menakjubkan. Mereka menyerahkan kepadanya sebuah peti yang penuh permata dan mutiara, dan ia pun berangkat.
Dalam perjalanan ia bermalam di sebuah penginapan. Para penghuni tempat itu mencium ada sesuatu yang berharga di dalam peti tamunya. Saat ia tertidur, mereka mengeluarkan semua permata itu dan mengisi peti dengan tanah, lalu menutupnya kembali seperti semula.
Pagi harinya, Nahum melihat petinya dan mengetahui apa yang terjadi. Apa kata-katanya? Sama seperti biasa.
“Gam zu letovah. Ini pun untuk kebaikan.”
Ia melanjutkan perjalanan. Sampailah ia di istana, dan peti itu dibuka di hadapan kaisar. Yang tampak hanya tanah. Murka sang kaisar meledak.
“Orang-orang Yahudi ini mempermainkanku!”
Ia memerintahkan agar mereka dihukum. Nahum berdiri di tengah istana, dengan peti tanah di hadapannya dan nasib seluruh bangsanya di ujung lidah sang kaisar. Sekali lagi ia berkata, “Ini pun untuk kebaikan.”
Menurut kisah itu, pada saat genting tersebut Nabi Elia hadir dengan menyamar sebagai salah seorang pejabat istana. Ia maju dan berkata kepada kaisar:
“Baginda, mungkinkah ini tanah milik Abraham, leluhur mereka? Konon, bila ia melemparkan tanah, tanah itu berubah menjadi pedang, dan jerami berubah menjadi anak panah.”
Kaisar terdiam. Saat itu ada sebuah daerah yang belum berhasil ditaklukkan pasukannya. Ia memutuskan untuk mengujinya. Tanah dari peti itu dibawa ke medan perang, dan menurut kisah ini, daerah itu pun jatuh.
Suasana istana berbalik sepenuhnya. Peti Nahum dibawa ke perbendaharaan kaisar, diisi penuh dengan permata, dan Nahum dipulangkan dengan segala hormat.
Dalam perjalanan pulang, ia kembali singgah di penginapan yang sama. Orang-orang di sana terheran-heran melihat kemuliaannya dan bertanya apa yang ia bawa kepada kaisar. “Yang kubawa dari sini, kubawa ke sana,” jawabnya.
Mendengar itu, para penghuni penginapan membongkar tanah di tempat mereka dan membawanya ke istana. Tanah itu diuji, tetapi tidak menghasilkan apa-apa, dan mereka mendapat hukuman atas perbuatan mereka.
Talmud menyimpan kisah ini bukan untuk mengajarkan bahwa setiap kemalangan pasti berakhir dengan peti berisi permata. Nahum sendiri mengalami penderitaan tubuh yang berat pada masa tuanya. Yang dikenang orang adalah kalimatnya, yang ia ucapkan sebelum tahu bagaimana ceritanya akan berakhir.
💖 Pesan Moral
- Kita jarang tahu cerita lengkapnya saat berada di tengah-tengahnya. Yang tampak seperti bencana pagi ini bisa punya arti lain nanti.
- Ketenangan adalah kekuatan dalam krisis. Nahum bisa berdiri tegak di hadapan kaisar karena ia tidak panik lebih dulu.
- Jangan meniru cara orang tanpa memahami jalannya. Para penghuni penginapan melihat hasilnya dan menyangka itu rumus.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Talmud Babilonia, traktat Taanit 21a; terdapat perbedaan rincian antarpenuturan.