Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Harimau Tua dan Gelang Emas

2 menit baca

Harimau di tepi danau Ranthambore, India: tempat yang tenang, tetapi bukan tempat untuk lengah. Gambar: Zahirabbaswikiindia · CC BY-SA 4.0 · sumber

Di tepi sebuah danau di tengah hutan, tinggallah seekor harimau tua. Giginya mulai tumpul dan kukunya tidak lagi tajam. Ia sudah tidak sanggup mengejar mangsa seperti dulu. Tetapi ia masih punya satu hal: akal yang licik.

Suatu hari, setelah mandi di danau, harimau itu duduk di tepi air memegang sebuah gelang emas yang berkilauan, sisa milik korban di masa lalu. Setiap kali ada orang lewat di jalan setapak di seberang danau, ia berseru dengan suara yang dibuat-buat lembut, “Wahai pengembara! Ambillah gelang emas ini. Aku ingin memberikannya sebagai sedekah.”

Kebanyakan orang langsung lari ketakutan. Tetapi suatu hari lewatlah seorang pengembara miskin. Ketika melihat kilau emas itu, ia berhenti. Hatinya bergolak. “Gelang itu bisa membuatku kaya. Tetapi yang memegangnya seekor harimau. Bagaimana kalau ini jebakan?”

Ia berseru dari kejauhan, “Mana mungkin aku percaya kepadamu? Engkau pemangsa manusia!”

Harimau itu menghela napas panjang, seolah-olah sedih sekali dituduh begitu. “Engkau benar, dulu aku memang jahat. Aku telah membunuh banyak makhluk, sampai seluruh keluargaku meninggal dan aku hidup sebatang kara. Seorang bijak menasihatiku untuk bertobat dan bersedekah. Sekarang aku sudah tua, gigiku tumpul, kukuku rontok. Lihatlah, apa yang bisa kulakukan kepadamu? Aku hanya ingin berbuat baik di sisa umurku.”

Kata-katanya begitu manis. Ia bahkan mengutip ayat-ayat tentang pahala bersedekah. Lama-lama pengembara itu mulai luluh.

“Tetapi sebelum menerima sedekah,” lanjut harimau itu, “mandilah dulu di danau ini supaya tubuhmu bersih. Lalu datanglah kemari.”

Pengembara itu menurut. Ia turun ke danau. Namun tepi danau itu ternyata berlumpur tebal. Begitu kakinya menginjak dasar, ia terperosok sampai ke pinggang dan tidak bisa bergerak.

“Aduh, engkau terjebak di lumpur?” kata harimau itu sambil berjalan pelan mendekatinya. “Tenang saja, akan kuangkat engkau.”

Ketika harimau itu mencengkeramnya, barulah pengembara itu sadar akan kesalahannya. Dalam hatinya ia berkata, “Seekor harimau tetaplah harimau, betapa pun manis kata-katanya. Akulah yang bodoh, membiarkan keserakahan mengalahkan akal sehat.” Tetapi penyesalan itu sudah terlambat.

💖 Pesan Moral

  • Keserakahan menumpulkan akal sehat. Iming-iming yang terlalu indah patut dicurigai.
  • Nilailah orang dari perbuatannya, bukan dari kata-katanya yang manis.
  • Kenali tanda bahaya sejak awal, dan jangan biarkan bujukan membuat kita mengabaikannya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel pertama dalam bagian Mitralabha (“Mendapatkan Sahabat”) kitab Hitopadesha, kumpulan fabel Sanskerta yang disusun oleh Narayana.