Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Bambu Seratus Ruas

3 menit baca

Rumpun bambu di hutan, seperti tempat Khoai mencari bambu seratus ruas. Gambar: Anonymous0006 · CC0 · sumber

Khoai sudah tiga tahun bekerja di rumah tuan tanah. Pagi-pagi ia ke sawah, malam-malam ia baru pulang. Ia yatim dan miskin, tetapi rajin, dan kerja kerasnya membuat lumbung sang tuan tanah penuh sesak.

Sejak awal tuan tanah itu sudah berjanji dengan mulut manisnya. “Bekerjalah yang tekun selama tiga tahun, Khoai. Tak perlu upah. Nanti kunikahkan kamu dengan putriku.”

Khoai percaya. Tiga tahun berlalu, tetapi tuan tanah itu punya rencana lain. Diam-diam ia sudah menjodohkan putrinya dengan anak seorang kaya di desa sebelah. Hanya saja ia perlu menyingkirkan Khoai tanpa keributan. Maka ia memanggil pemuda itu dengan wajah ramah.

“Pernikahanmu segera kita siapkan. Untuk upacaranya, aku perlu sebatang bambu dengan seratus ruas. Pergilah ke hutan dan carilah. Tanpa bambu itu, tak ada pesta.”

Khoai berangkat dengan kapak di pundak. Ia menebang bambu paling panjang yang ia temui, lalu menghitung ruasnya. Tiga puluh. Empat puluh. Lima puluh. Sehari penuh ia menjelajahi rimba, tetapi bambu seratus ruas tidak pernah ada. Menjelang senja ia duduk di tanah dan menangis, sebab barulah ia sadar telah ditipu.

“Mengapa menangis, Nak?”

Bụt, sosok welas asih yang kerap muncul dalam dongeng Vietnam, berdiri di hadapannya. Khoai menceritakan semuanya. Bụt tersenyum dan berkata, “Pergilah tebang seratus ruas bambu, satu demi satu. Kumpulkan di sini, lalu ucapkan: khắc nhập, khắc nhập.”

Khoai menurut. Seratus potong bambu ia susun di tanah. Ketika ia mengucapkan kata-kata itu, potongan-potongan tersebut melompat dan menyatu menjadi satu batang yang sangat panjang, lurus, dengan tepat seratus ruas. Ia terperangah. “Untuk memisahkannya,” kata Bụt, “ucapkan khắc xuất, khắc xuất.”

Karena bambu itu terlalu panjang untuk dipikul, Khoai memisahkannya lagi, lalu membawanya pulang seikat demi seikat. Di halaman rumah tuan tanah, pesta sudah berlangsung. Gadis itu sedang didandani untuk dinikahkan dengan pemuda kaya.

Tuan tanah tertawa melihat seikat potongan bambu. “Mana bambu seratus ruasmu, anak bodoh?”

Khoai menyusun potongan itu dan berkata pelan, “Khắc nhập, khắc nhập.” Bambu menyatu, dan tuan tanah yang sedang menyentuhnya ikut melekat. Ia menjerit dan menarik-narik tangannya. Calon besan datang menolong, lalu melekat juga. Orang-orang berteriak, dan bambu itu kini menyeret dua orang kaya yang berdandan rapi.

“Ampun, Khoai! Lepaskan aku! Putriku jadi milikmu!”

“Khắc xuất, khắc xuất,” ucap Khoai. Keduanya terlepas dan jatuh terduduk di tanah. Pernikahan hari itu tetap dilangsungkan, dengan pengantin lelaki yang berbeda.

💖 Pesan Moral

  • Janji kepada orang kecil sama beratnya dengan janji kepada orang besar.
  • Waspadai syarat yang mustahil. Itu sering cuma cara halus untuk mengatakan “tidak”.
  • Kerja keras layak dibayar dengan jelas. Upah yang hanya berupa janji bisa berubah kapan saja.
  • Bagi para calon mertua: jangan menyentuh sembarang bambu.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Vietnam Cây tre trăm đốt; rincian alurnya berbeda-beda antarversi.