Serigala Berbulu Domba
Serigala yang menyamar dengan bulu domba akhirnya tergantung di pohon, seperti akhir kisah versi Abstemius. Gambar: Print made by: Marcus Gheeraerts I Published by: Pieter de Clerck · Public domain · sumber
Seekor serigala sudah lama mengincar kawanan domba di padang itu, tetapi usahanya selalu gagal. Si penggembala waspada, tongkatnya panjang, dan domba-domba akan berlarian begitu mencium bau serigala. Setiap malam ia pulang ke hutan dengan perut kosong.
Suatu hari ia menemukan selembar kulit domba yang tertinggal di semak-semak. Ia mengendusnya lama, lalu mendapat gagasan. Kulit itu ia selubungkan ke punggungnya, kepalanya ia tundukkan, dan langkahnya ia buat pelan seperti langkah domba yang sedang merumput.
Esok paginya ia menyelinap ke tengah kawanan. Tak ada domba yang lari. Si penggembala melintas beberapa langkah darinya dan tidak menoleh sedikit pun. Serigala itu nyaris tertawa sendiri.
“Selama ini aku bersusah payah berburu,” pikirnya, “padahal cukup berganti baju.”
Maka mulailah hari-hari yang paling makmur dalam hidupnya. Setiap hari ia berjalan bersama kawanan, makan siang dari domba yang lengah, dan menyembunyikan jejaknya dengan rapi. Siang hari ia tampak seperti domba paling jinak di padang itu. Sore harinya, jumlah domba berkurang satu.
Si penggembala mulai gelisah. Ia menghitung kawanannya pagi dan petang, dan angkanya selalu susut. Tidak ada pagar yang rusak, tidak ada jejak asing di sekeliling padang. Karena itu ia berhenti mengawasi tepi hutan dan mulai memperhatikan kawanannya sendiri, satu per satu, dari jarak dekat.
Tak lama kemudian ia melihat apa yang selama ini luput dari matanya: seekor domba yang tak pernah mengunyah rumput, yang selalu berdiri paling dekat dengan domba yang kemudian hilang.
Ia menunggu saat yang tepat, lalu menangkapnya. Di balik bulu putih itu ada taring. Tanpa banyak bicara, si penggembala menggantung serigala itu di dahan pohon yang tinggi di tepi padang, lengkap dengan kulit dombanya.
Beberapa penggembala lain yang lewat berhenti dan menatap ke atas dengan heran.
“Apa yang kaulakukan? Mengapa domba itu kaugantung?”
Si penggembala menjawab sambil tetap menghitung kawanannya.
“Kulitnya memang kulit domba. Tetapi perbuatannya perbuatan serigala.”
💖 Pesan Moral
- Nilailah orang dari perbuatannya. Penampilan bisa dipinjam, kebiasaan sehari-hari jauh lebih sulit dipalsukan.
- Bahaya tidak selalu datang dari luar pagar. Si penggembala baru menemukan jawabannya setelah mau memeriksa kawanannya sendiri.
- Hitunglah secara teratur. Kecurangan biasanya terbongkar oleh angka kecil yang terus berulang.
- Penyamaran hanya menunda akibat. Semakin lama dijalani, semakin banyak yang harus dipertanggungjawabkan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi fabel “serigala berbulu domba”, yaitu versi Laurentius Abstemius dalam Hecatomythium (abad ke-15). Fabel ini sering dimasukkan ke kumpulan Aesop, tetapi versi tertua yang diketahui baru muncul pada abad ke-12, dan ungkapannya sendiri berasal dari Injil Matius.