Raja yang Sedih dan Baju Orang Bahagia
Para petani beristirahat di ladang. Di tempat seperti inilah para utusan raja akhirnya menemukan orang yang mereka cari. Gambar: Pieter Brueghel the Elder · Public domain · sumber
Raja itu memiliki segalanya: istana berlantai pualam, gudang penuh emas, dan negeri yang tenteram. Namun setiap pagi ia bangun dengan dada yang berat. Makanan terasa hambar, musik terdengar bising, dan tawa para abdi membuatnya jengkel. Lama-kelamaan ia jatuh sakit, padahal tak seorang tabib pun menemukan penyakit di tubuhnya.
Tabib demi tabib datang dengan ramuan, dan semuanya pulang dengan tangan hampa. Akhirnya seorang tua yang bijak dipanggil ke istana. Setelah lama mengamati sang raja, ia berkata pelan:
“Hanya satu obat untuk penyakit Baginda. Carilah orang yang benar-benar bahagia, lalu kenakan bajunya.”
Hari itu juga para utusan berkuda ke segala penjuru. Tugas itu terdengar mudah. Mereka mendatangi saudagar paling kaya di kota, dan menemukan lelaki yang tak bisa tidur karena takut hartanya dicuri. Mereka menemui seorang bangsawan, yang ternyata iri pada bangsawan lain. Seorang panglima yang termasyhur mengeluh tentang rajanya. Seorang ayah dengan anak-anak yang sehat cemas memikirkan masa depan mereka. Seorang pemuda yang baru menikah takut cintanya memudar.
“Bahagia?” kata mereka satu per satu. “Aku akan bahagia, seandainya saja…” Lalu kalimat itu disambung dengan seribu macam keinginan.
Berminggu-minggu berlalu. Baju yang dicari tak kunjung ditemukan, sementara kabar dari istana semakin buruk. Dengan lesu para utusan berkuda pulang melewati sebuah desa kecil di tepi ladang. Senja mulai turun ketika mereka mendengar seseorang bernyanyi keras-keras dari balik semak. Suaranya sumbang, tetapi riang bukan main.
Mereka turun dari kuda dan menyibak semak itu. Seorang petani miskin sedang duduk bersandar pada gundukan jerami, mengunyah sepotong roti keras sambil memandangi langit yang memerah.
“Hei, Saudara! Apakah kamu bahagia?” tanya kepala utusan.
“Tentu saja,” jawab petani itu sambil tertawa. “Pekerjaanku selesai, rotiku cukup, dan malam ini aku akan tidur nyenyak. Apa lagi yang kurang?”
“Kamu tidak menginginkan apa-apa? Tidak iri pada siapa pun? Tidak takut pada hari esok?”
“Hari esok biar mengurus dirinya sendiri, Tuan.”
Para utusan berpandangan dengan mata berbinar. Akhirnya! Kepala utusan menjabat tangan petani itu erat-erat.
“Sahabatku, raja kami hampir mati, dan hanya kamu yang bisa menolongnya. Berikan bajumu. Kami akan membayarnya dengan emas sebanyak yang kamu mau!”
Petani itu berhenti mengunyah. Ia berdiri, lalu menyingkap jubah kasarnya yang lusuh. Para utusan terdiam.
Di balik jubah itu, ia tidak mengenakan baju sama sekali.
💖 Pesan Moral
- Daftar “seandainya saja” tak pernah habis. Orang yang menunda bahagia sampai semua keinginannya terpenuhi akan terus menunggu.
- Harta bisa menambah kenyamanan, juga menambah ketakutan. Makin banyak yang kita genggam, makin banyak yang kita khawatirkan.
- Cukup adalah kata yang perlu dilatih. Si petani punya sedikit, tetapi ia tahu kapan harinya sudah selesai.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah rakyat yang tersebar luas dan tercatat dalam banyak versi, antara lain di Skotlandia dan Irlandia (tipe kisah AT 844); asal-usul pastinya tidak diketahui.