Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Laba-Laba Air dan Api Pertama

3 menit baca

Laba-laba yang mampu berdiri di atas air, kerabat si pahlawan kecil dalam kisah Cherokee. Gambar: Judy Gallagher · CC BY 2.0 · sumber

Pada awalnya tidak ada api, dan dunia terasa dingin. Lalu para Guntur yang tinggal di dunia atas mengirimkan kilat, dan kilat itu menyalakan api di dasar sebatang pohon sikamor berlubang yang tumbuh di sebuah pulau.

Semua binatang tahu api itu ada di sana, karena mereka melihat asap membubung dari puncak pohon. Masalahnya, ada air yang memisahkan mereka dari pulau itu. Mereka pun mengadakan sidang untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Ini terjadi sudah lama sekali.

Setiap binatang yang bisa terbang atau berenang bersemangat ingin berangkat. Burung Gagak mengajukan diri. Ia besar dan kuat, sehingga semua yakin ia pasti berhasil, dan ia diberangkatkan lebih dulu. Ia terbang tinggi menyeberangi air dan hinggap di pohon sikamor. Sementara ia berpikir apa yang harus dilakukan, panasnya menghanguskan seluruh bulunya sampai hitam. Ia ketakutan dan pulang tanpa api.

Burung Hantu Kecil menawarkan diri. Ia sampai dengan selamat, tetapi saat ia mengintip ke lubang pohon, semburan udara panas nyaris membakar matanya. Dengan susah payah ia terbang pulang. Lama sekali ia tak bisa melihat dengan baik, dan sampai hari ini matanya merah.

Kemudian dua burung hantu lain, si Uguku dan si Burung Hantu Bertanduk, berangkat. Saat keduanya tiba, api sudah begitu besar sehingga asapnya hampir membutakan mereka, dan abu yang tertiup angin membentuk lingkaran putih di sekeliling mata mereka. Mereka pulang tanpa api, dan sekeras apa pun mereka menggosoknya, lingkaran itu tak pernah hilang.

Tak ada lagi burung yang berani. Ular kecil Uksu’hi berkata ia akan berenang. Ia menyeberang, merayap di rerumputan, dan masuk lewat lubang kecil di dasar pohon. Panas dan asap membuatnya berkelit membabi buta di atas abu yang membara. Berkat nasib baik ia bisa keluar lagi, tetapi tubuhnya sudah hangus hitam, dan sejak itu ia punya kebiasaan melesat dan berbalik arah seolah hendak meloloskan diri dari tempat sempit.

Ular hitam besar Gule’gi, Si Pemanjat, mencoba berikutnya. Ia memanjat pohon dari luar, tetapi saat ia menjulurkan kepala ke lubang, asap membuatnya tersedak, dan ia jatuh ke tunggul yang terbakar. Ketika berhasil naik lagi, tubuhnya sehitam Uksu’hi.

Sidang kembali digelar. Api belum juga didapat, dan dunia masih dingin. Burung, ular, dan binatang berkaki empat semuanya punya alasan untuk tidak pergi. Sampai akhirnya terdengar suara kecil. Itu Kanane’ski Amai’yehi, si Laba-laba Air, yang berbulu hitam halus dengan garis merah di tubuhnya.

“Biar aku saja,” katanya.

Ia bisa berlari di atas air dan menyelam sampai ke dasar, sehingga menyeberang bukanlah soal. Yang jadi pertanyaan, bagaimana ia akan membawa api itu pulang?

“Itu urusanku,” jawabnya.

Ia memintal benang dari tubuhnya sendiri dan menganyamnya menjadi mangkuk kecil, lalu mengikatkan mangkuk itu di punggungnya. Ia menyeberang ke pulau, menyusup melalui rerumputan menuju api yang masih menyala, memasukkan sebutir bara kecil ke dalam mangkuknya, dan membawanya pulang.

Sejak itulah manusia memiliki api. Dan Laba-laba Air masih menyimpan mangkuknya sampai sekarang.

💖 Pesan Moral

  • Tugas besar sering diselesaikan oleh yang tidak diperhitungkan. Semua menunggu si besar dan kuat, padahal jawabannya berasal dari makhluk paling kecil di sidang itu.
  • Yang kurang dari yang lain bukan keberanian, melainkan rencana. Laba-laba Air memikirkan cara membawa api sebelum berangkat.
  • Bawalah sebanyak yang sanggup kita bawa. Sebutir bara sudah cukup untuk menghangatkan dunia.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Cherokee “The First Fire” yang dicatat James Mooney dalam Myths of the Cherokee (1900).