Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Senar Kecapi Sona

3 menit baca

Kinnari vina, ilustrasi William Gibb (1891). Senarnya harus ditala, tidak terlalu tegang dan tidak terlalu kendur. Gambar: William Gibb · Public domain · sumber

Sona Kolivisa lahir dari keluarga yang sangat kaya. Menurut kisahnya, sejak kecil ia hidup begitu dimanja sehingga telapak kakinya halus seperti kelopak bunga, karena hampir tidak pernah menginjak tanah yang keras. Ia juga dikenal pandai memainkan vina, alat musik petik semacam kecapi.

Suatu hari Sona mendengar ajaran Sang Buddha dan hatinya tersentuh. Ia meninggalkan kemewahannya dan menjadi seorang bhikkhu. Karena merasa sudah terlalu lama hidup enak, ia bertekad untuk berlatih lebih keras daripada siapa pun.

Ia memilih tinggal di Hutan Sitavana dekat kota Rajagaha dan berlatih meditasi berjalan siang dan malam, hampir tanpa beristirahat. Ia berjalan bolak-balik di jalan setapak yang berbatu sampai telapak kakinya yang halus melepuh dan berdarah. Jalan setapak itu, kata kisahnya, sampai ternoda darah seperti tempat penyembelihan.

Tetapi pikirannya tidak juga menjadi tenang. Kelelahan dan rasa kecewa justru semakin besar. Suatu hari, ketika duduk menyendiri, Sona berpikir, “Aku sudah berusaha lebih keras daripada siapa pun, tetapi tidak juga berhasil. Keluargaku kaya. Mungkin lebih baik aku kembali ke rumah, menikmati harta, dan berbuat kebajikan dengan cara lain.”

Sang Buddha mengetahui kegelisahan muridnya itu. Ia datang menemui Sona dan duduk di dekatnya.

“Sona, bukankah tadi engkau berpikir untuk kembali ke kehidupan berumah tangga?” “Benar, Guru,” jawab Sona sambil menunduk.

“Katakan kepadaku, dulu ketika engkau masih di rumah, bukankah engkau pandai memainkan vina?”

“Benar, Guru.”

“Ketika senar vinamu ditarik terlalu kencang, apakah suaranya merdu dan alat itu enak dimainkan?”

“Tidak, Guru. Senar yang terlalu tegang akan berbunyi sumbang, bahkan bisa putus.”

“Dan ketika senarnya terlalu kendur, apakah suaranya merdu?”

“Tidak juga, Guru. Senar yang kendur tidak akan berbunyi dengan baik.”

“Lalu kapan vina itu berbunyi merdu?”

“Ketika senarnya tidak terlalu tegang dan tidak terlalu kendur, Guru. Ketika ditala dengan pas.”

Sang Buddha tersenyum. “Begitu pula dengan usaha, Sona. Usaha yang terlalu keras membuat pikiran gelisah. Usaha yang terlalu kendur membuat pikiran malas. Karena itu, temukanlah keseimbangan dalam usahamu, seperti engkau menala senar vinamu.”

Sona memahami nasihat itu. Ia berhenti menyiksa dirinya, tetapi juga tidak bermalas-malasan. Ia berlatih dengan tekun dan seimbang. Tidak lama kemudian, menurut sutta, ia mencapai pencerahan yang selama ini ia cari.

💖 Pesan Moral

  • Usaha terbaik adalah usaha yang seimbang, tidak terlalu tegang dan tidak terlalu kendur.
  • Bekerja terlalu keras bisa sama merusaknya dengan bermalas-malasan. Istirahat juga bagian dari kemajuan.
  • Sebelum menyerah, coba periksa “tala” kita; mungkin yang perlu diubah adalah caranya, bukan tujuannya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Sona Sutta (Anguttara Nikaya 6.55) dan kisah serupa dalam Mahavagga, Vinaya Pitaka, Kanon Pali Buddhis.