Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Rusa, Pelatuk, dan Kura-kura

3 menit baca

Kurunga Miga Jataka pada medali Stupa Bharhut: rusa, burung, kura-kura, dan pemburunya. Gambar: Cunningham, Alexander, Sir, 1814-1893 · Public domain · sumber

Di tepi sebuah telaga di tengah hutan, tiga makhluk yang sangat berbeda hidup bersahabat. Seekor antelop tinggal di semak-semak dekat air. Seekor burung pelatuk bersarang di puncak pohon. Seekor kura-kura tinggal di dalam telaga. Antelop itu berlari, pelatuk terbang, dan kura-kura merangkak, tetapi setiap hari mereka selalu sempat saling menyapa.

Suatu hari seorang pemburu menemukan jejak kaki rusa di jalan menuju air. Ia memasang jerat dari kulit yang liat dan kuat seperti rantai besi, lalu pergi.

Malam itu antelop turun untuk minum, dan kakinya terjerat. Semakin keras ia meronta, semakin kencang tali itu. Teriakannya menggema sampai ke puncak pohon dan ke dasar telaga. Pelatuk terbang turun, dan kura-kura merangkak keluar dari air.

“Kura-kura, kau punya gigi. Gigitlah tali itu sampai putus,” kata pelatuk. “Aku akan mengurus pemburunya. Kalau kita sama-sama berusaha, sahabat kita tidak akan mati.”

Kura-kura mulai menggigit, sementara pelatuk terbang menembus gelap ke rumah pemburu dan menunggu.

Saat fajar, pemburu keluar lewat pintu depan dengan pisau di tangan. Pelatuk menjerit, mengepakkan sayap, dan memukul wajahnya. Pemburu mundur.

“Burung pembawa sial,” gerutunya. Ia masuk dan berbaring sebentar.

Pelatuk berpikir: kalau pintu depan membawa sial, ia akan lewat pintu belakang. Ia pun pindah ke belakang rumah. Pemburu ternyata berpikir persis sama. Begitu ia melangkah keluar dari pintu belakang, burung itu sudah menyambar wajahnya lagi. Pemburu menyerah dan menunggu sampai matahari benar-benar tinggi.

Pelatuk bergegas kembali ke telaga. “Dia datang!”

Saat itu kura-kura sudah memutus semua tali kecuali satu yang paling liat. Giginya terasa hampir tanggal, dan mulutnya berlumuran darah. Antelop melihat pemburu mendekat secepat kilat. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, menyentak tali terakhir sampai putus, dan melesat ke hutan. Pelatuk naik ke puncak pohon.

Kura-kura terlalu lemah untuk bergerak. Ia masih tergeletak di tepi air ketika pemburu sampai dan menemukan jeratnya terputus. Dengan kesal ia memungut kura-kura itu, memasukkannya ke dalam kantong, dan mengikatkan kantong itu ke sebatang pohon.

Dari tempat persembunyiannya, antelop melihat semuanya. Ia bisa saja terus lari. Ia malah memperlihatkan diri di kejauhan, berpura-pura lemah dan terhuyung. Pemburu mengira ia hampir bisa ditangkap, lalu mengejarnya dengan pisau terhunus, makin lama makin jauh ke dalam hutan.

Setelah pemburu tersesat cukup jauh, antelop berlari memutar secepat angin kembali ke pohon itu. Dengan tanduknya ia mengangkat kantong, membantingnya ke tanah, dan merobeknya. Kura-kura merangkak keluar.

Pelatuk turun dari pohonnya, dan antelop menasihati kedua sahabatnya: pemburu itu pasti kembali, jadi mereka harus pindah. Mereka berpisah ke tempat aman masing-masing. Tak lama pemburu datang dan hanya menemukan kantong sobek, lalu pulang dengan sedih. Ketiga sahabat itu hidup rukun sampai akhir usia mereka.

💖 Pesan Moral

  • Setiap kawan punya kemampuan berbeda. Gigi kura-kura, sayap pelatuk, dan kaki antelop baru berguna penuh ketika dipakai bersama.
  • Persahabatan sejati berbalas. Antelop yang baru lolos dari maut kembali mempertaruhkan diri untuk kawan yang telah berdarah demi dirinya.
  • Selesaikan yang sudah dimulai. Tali terakhir sering paling liat. Kura-kura menggigit sampai mulutnya luka.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Kurungamiga Jataka (Jataka no. 206), kumpulan kisah kelahiran lampau Buddha dalam tradisi Buddhis.