Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Katak di Dasar Sumur (井底之蛙)

3 menit baca

Sebuah sumur tua di Tiongkok. Bagi katak di dasarnya, langit hanya selebar mulut sumur. Gambar: Shizhao (pengguna Wikimedia Commons) · CC BY-SA 3.0 · sumber

Di sebuah sumur tua yang dangkal dan sudah lama tidak dipakai, hiduplah seekor katak. Sumur itu menjadi seluruh dunianya. Ia lahir di sana, tumbuh di sana, dan tak pernah sekali pun keluar.

Katak itu sangat puas dengan hidupnya. Kalau ingin bermain, ia melompat ke bibir sumur dan duduk di atasnya. Kalau lelah, ia beristirahat di celah batu bata yang pecah. Kalau ingin berenang, airnya cukup merendam ketiaknya dan menyangga dagunya. Kalau berjalan di lumpur, kakinya terbenam sampai mata kaki. Kepiting kecil, berudu, dan cacing di sekitarnya tidak ada yang bisa menandingi dirinya.

Suatu hari, seekor penyu besar dari Laut Timur kebetulan lewat di dekat sumur itu. Katak itu melihatnya dan langsung berseru dengan bangga.

“Hai, Penyu! Lihatlah betapa bahagianya hidupku! Aku menguasai seluruh air di sumur ini. Aku bisa melompat, berenang, berjemur, sesuka hatiku. Kenapa kau tidak sesekali masuk dan melihat-lihat? Kau pasti iri.”

Penyu itu tertarik dan mencoba masuk. Tetapi baru kaki kirinya yang masuk, lutut kanannya sudah tersangkut di bibir sumur. Sumur itu terlalu sempit untuknya. Dengan hati-hati ia mundur kembali.

Lalu penyu itu bercerita dengan lembut. “Kawan, izinkan aku menceritakan tentang laut, rumahku. Jarak seribu li pun tidak cukup untuk mengukur lebarnya. Ketinggian seribu ren tidak cukup untuk mengukur dalamnya. Dulu, pada zaman Raja Yu, sembilan dari sepuluh tahun terjadi banjir, tetapi air laut tidak bertambah. Pada zaman Raja Tang, tujuh dari delapan tahun terjadi kemarau, tetapi pantainya tidak surut. Laut tidak berubah oleh waktu yang singkat atau panjang, dan tidak bertambah atau berkurang oleh banyak atau sedikitnya air hujan. Itulah kebahagiaan tinggal di Laut Timur.”

Katak di dalam sumur itu terperanjat. Matanya membelalak, mulutnya ternganga. Ia merasa kecil sekali. Selama ini ia mengira langit hanya selebar mulut sumur yang ia lihat dari bawah, dan dunia hanya sebesar sumurnya.

Kisah ini tercatat dalam kitab Zhuangzi. Di bagian lain kitab yang sama ada kalimat terkenal: katak di dalam sumur tidak bisa diajak bicara tentang laut, karena ia terkurung oleh tempatnya. Serangga musim panas tidak bisa diajak bicara tentang es, karena ia terkurung oleh musimnya.

Dari sinilah lahir peribahasa 井底之蛙 (jǐng dǐ zhī wā), “katak di dasar sumur”. Di Indonesia, kita punya ungkapan yang mirip sekali: “seperti katak dalam tempurung”. Keduanya menggambarkan orang yang wawasannya sempit tetapi merasa sudah tahu segalanya.

Yang patut diingat, katak itu tidak jahat. Ia hanya belum pernah melihat dunia di luar sumurnya. Kita semua pernah, dalam hal tertentu, menjadi katak itu.

💖 Pesan Moral

  • Dunia selalu lebih luas dari yang kita lihat. Rajinlah membaca, bepergian, dan mendengarkan pengalaman orang lain.
  • Merasa paling hebat sering kali tanda kita belum melihat banyak hal.
  • Rendah hati untuk belajar adalah cara terbaik untuk keluar dari “sumur” kita sendiri.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Zhuangzi, bab “Qiu Shui” (Air Musim Gugur), karya klasik Taois yang dikaitkan dengan filsuf Zhuang Zhou (abad ke-4 SM), asal-usul peribahasa 井底之蛙.