Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Penebang Kayu yang Jujur

3 menit baca

Penebang kayu yang kehilangan kapaknya memohon pertolongan. Ukiran Gustave Doré (1867). Gambar: Gustave Doré · Public domain · sumber

Di tepi sebuah hutan, tinggallah seorang penebang kayu yang miskin. Setiap hari ia masuk ke hutan dengan kapak tuanya, menebang kayu, lalu menjualnya di pasar. Penghasilannya kecil, tetapi ia selalu bekerja dengan jujur dan tidak pernah mengeluh.

Suatu hari, ia sedang menebang pohon di tepi sebuah sungai yang dalam. Karena tangannya licin oleh keringat, kapaknya terlepas dari genggaman dan jatuh ke dalam sungai. Plung! Kapak itu langsung tenggelam ke dasar air yang gelap.

Penebang kayu itu terduduk lemas di tepi sungai. Kapak itu adalah satu-satunya alat untuk mencari nafkah. Tanpa kapak, bagaimana ia bisa memberi makan keluarganya? Ia pun menangis tersedu-sedu.

Tiba-tiba, air sungai berkilauan, dan muncullah sosok bercahaya dari dalamnya. Ia adalah Hermes, utusan para dewa. “Mengapa engkau menangis, wahai penebang kayu?” tanyanya.

Penebang kayu menceritakan apa yang terjadi. Hermes mengangguk, lalu menyelam ke dalam sungai. Tak lama kemudian, ia muncul kembali sambil membawa sebuah kapak yang terbuat dari emas murni, berkilauan di bawah sinar matahari.

“Apakah ini kapakmu?” tanya Hermes.

Penebang kayu menatap kapak emas itu. Kapak itu pasti sangat mahal. Dengan menjualnya, ia tidak perlu bekerja keras lagi seumur hidupnya. Tetapi ia menggeleng. “Bukan, Tuan. Itu bukan kapak saya.”

Hermes menyelam lagi, lalu muncul dengan sebuah kapak perak yang berkilau. “Kalau begitu, apakah ini kapakmu?”

Sekali lagi penebang kayu menggeleng. “Bukan, Tuan. Kapak saya hanyalah kapak besi biasa dengan gagang kayu yang sudah usang.”

Hermes menyelam untuk ketiga kalinya, dan kali ini ia membawa sebuah kapak besi tua dengan gagang kayu yang aus. Wajah penebang kayu langsung berseri-seri. “Ya! Itu kapak saya! Terima kasih, Tuan, terima kasih banyak!”

Hermes tersenyum. “Karena kejujuranmu,” katanya, “ambillah ketiga kapak ini. Semuanya milikmu.”

Penebang kayu itu pulang dengan gembira dan menceritakan kejadian itu kepada tetangga-tetangganya. Salah seorang tetangganya, yang serakah, langsung punya rencana. Keesokan harinya ia pergi ke sungai yang sama, dengan sengaja melemparkan kapaknya ke dalam air, lalu pura-pura menangis keras-keras.

Hermes pun muncul dan bertanya mengapa ia menangis. Lalu ia menyelam dan membawa sebuah kapak emas. “Apakah ini kapakmu?”

“Ya! Ya! Itu kapak saya!” seru tetangga itu, tangannya sudah terulur.

Wajah Hermes berubah dingin. Tanpa berkata apa-apa, ia menghilang ke dalam sungai bersama kapak emas itu. Tetangga yang serakah itu tidak mendapat kapak emas, dan kapaknya sendiri pun tidak pernah kembali.

💖 Pesan Moral

  • Kejujuran adalah kebijakan terbaik, bahkan ketika berbohong tampak lebih menguntungkan.
  • Keserakahan dan kebohongan bisa membuat kita kehilangan apa yang sudah kita miliki.
  • Integritas teruji justru saat tidak ada yang tahu apakah kita jujur atau tidak.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Penebang Kayu dan Hermes” (dalam versi Latin, Merkurius), yang juga digubah oleh Jean de La Fontaine dalam “Le Bûcheron et Mercure”.