Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Putri Mandalika dan Tradisi Bau Nyale

2 menit baca

Tradisi Bau Nyale di Lombok, mengenang Putri Mandalika. Gambar: Focusfeel · CC BY-SA 4.0 · sumber

Dahulu kala di pesisir selatan Pulau Lombok, berdirilah Kerajaan Tonjang Beru yang dipimpin Raja Tonjang Beru dan permaisurinya, Dewi Seranting. Mereka memiliki seorang putri bernama Mandalika.

Putri Mandalika tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Namun yang membuat rakyat mencintainya bukan hanya parasnya, melainkan budi pekertinya. Ia ramah kepada siapa saja, suka menolong rakyat kecil, dan bertutur kata lembut.

Kabar tentang kecantikan dan kebaikan sang putri tersebar ke seluruh penjuru Lombok. Para pangeran dari berbagai kerajaan datang melamar. Masing-masing membawa hadiah, dan masing-masing yakin dirinyalah yang paling pantas.

Putri Mandalika dilanda kebingungan. Jika ia memilih salah satu pangeran, pangeran-pangeran lain akan merasa terhina. Ia mendengar bahwa beberapa di antara mereka bahkan sudah siap mengerahkan pasukan. Perang bisa pecah, dan yang paling menderita adalah rakyat biasa.

Berhari-hari sang putri bersemedi, mencari jalan keluar yang tidak menumpahkan darah. Akhirnya ia meminta semua pangeran dan rakyat berkumpul di Pantai Seger pada tanggal dua puluh bulan kesepuluh menurut penanggalan Sasak, sebelum fajar.

Pagi itu pantai dipenuhi orang. Putri Mandalika berdiri di atas sebuah batu karang, mengenakan pakaian terbaiknya. Dengan suara tenang ia berkata, “Aku tidak dapat memilih satu di antara kalian, sebab aku tidak ingin kerajaan-kerajaan ini saling bermusuhan. Aku memilih menjadi milik kalian semua, milik seluruh rakyat.”

Sebelum ada yang sempat mencegah, ia menceburkan diri ke laut. Orang-orang berlari ke air dan mencarinya, tetapi sang putri tidak ditemukan. Yang muncul justru ribuan cacing laut berwarna-warni yang berenang ke permukaan. Masyarakat meyakini cacing itu adalah jelmaan Putri Mandalika.

Cacing laut itu disebut nyale. Hingga hari ini, masyarakat Sasak menggelar tradisi Bau Nyale, yaitu menangkap nyale di pantai selatan Lombok setiap tahun, sekitar bulan Februari atau Maret. Tradisi ini menjadi pesta rakyat yang meriah, dan nama Mandalika kini juga diabadikan sebagai nama kawasan di Lombok Tengah.

Pengorbanan dalam legenda ini tentu tidak dimaksudkan untuk ditiru secara harfiah. Yang dikenang adalah semangatnya: seorang pemimpin muda yang lebih mementingkan perdamaian dan keselamatan rakyat daripada kebahagiaan pribadinya.

💖 Pesan Moral

  • Utamakan perdamaian dan kepentingan bersama di atas keinginan pribadi.
  • Pemimpin sejati memikirkan rakyat kecil yang paling terdampak oleh keputusannya.
  • Kecantikan budi lebih dikenang daripada kecantikan wajah.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda Sasak tentang Putri Mandalika dan asal-usul tradisi Bau Nyale, Lombok, Nusa Tenggara Barat.