Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Cut Nyak Dhien, Pejuang yang Nyaris Buta dari Aceh

3 menit baca

Cut Nyak Dhien, duduk di tengah, sesudah ditangkap pasukan Letnan Van Vuuren. Gambar: KITLV 4356 · CC BY-SA 4.0 · sumber

Ketika pasukan Belanda akhirnya menemukannya di hutan Aceh Barat pada November 1905, perempuan yang mereka buru selama bertahun-tahun itu sudah tua dan sangat lemah, dan penglihatannya nyaris hilang. Menurut beberapa sumber, ia masih berusaha meraih rencong untuk melawan orang yang mendekatinya.

Cut Nyak Dhien lahir sekitar 1848 sampai 1850 di lingkungan bangsawan VI Mukim, Aceh Besar. Perang Aceh meletus pada 1873, dan sejak itu sebagian besar hidupnya berlangsung di tengah perlawanan. Suami pertamanya, Teuku Ibrahim Lamnga, gugur di Gle Tarum pada 29 Juni 1878. Sekitar tahun 1880 ia menikah dengan Teuku Umar, pemimpin perlawanan yang menurut sejumlah catatan mengizinkannya ikut berjuang. Dari pernikahan ini lahir seorang putri, Cut Gambang.

Teuku Umar gugur di sekitar Meulaboh pada 11 Februari 1899. Pang Laot dan para pengikutnya membawa jenazahnya dari medan tempur lalu memakamkannya secara rahasia agar lokasinya tidak diketahui Belanda.

Di titik inilah Cut Nyak Dhien mengambil alih pimpinan kelompok yang tersisa, dengan Pang Laot sebagai salah satu pembantu terdekatnya. Kira-kira enam tahun lamanya mereka bergerilya, terus berpindah melalui hutan dan pegunungan di Aceh Barat dan pedalaman. Angka “dua puluh lima tahun memimpin sesudah Teuku Umar gugur”, yang kadang beredar, tidak cocok dengan kronologi ini. Enam tahun itu sendiri sudah berat: pasukannya menyusut, persediaan makin tipis, dan tubuhnya makin digerogoti usia. Matanya rabun dan sendinya sakit.

Melihat keadaan itu, Pang Laot Ali mengambil keputusan yang sampai sekarang diperdebatkan. Ia menghubungi Belanda dan bersedia menunjukkan tempat persembunyian pemimpinnya, dengan syarat Cut Nyak Dhien diperlakukan terhormat dan tidak disakiti. Cerita populer menyebutnya pengkhianat, tetapi sumber sejarah juga mencatat alasan yang ia kemukakan: ia tak tega melihat penderitaan fisik pemimpinnya.

Pasukan di bawah Letnan Van Vuuren bergerak ke persembunyian itu. Para pengikutnya yang tinggal sedikit masih melawan. Cut Nyak Dhien ditangkap, sedangkan Cut Gambang berhasil lolos. Tanggalnya tercatat berbeda, 4 atau 7 November 1905. Foto yang dibuat sesudah penangkapan memperlihatkannya duduk membungkuk di bangku, berkerudung kain, dengan wajah menahan sakit.

Ia dibawa ke Kutaraja dan dirawat, sehingga kesehatannya sedikit membaik. Tetapi orang-orang Aceh terus datang menjenguk, dan Belanda khawatir ia menjadi pusat perlawanan lagi. Pada Desember 1906 keluar keputusan pengasingan, dan penelitian menunjukkan ia baru tiba di Sumedang, Jawa Barat, pada 1907, hampir setengah tahun kemudian.

Di Sumedang identitasnya sengaja tidak diumumkan. Orang setempat hanya tahu ia perempuan bangsawan dari luar Jawa yang menguasai ilmu agama, dan memanggilnya Ibu Perbu. Dengan mata yang hampir tidak melihat dan tidak fasih berbahasa Sunda, ia mengajar mengaji kepada perempuan dan anak-anak di sekitarnya. Ia wafat pada 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh. Kebanyakan tetangganya tidak tahu bahwa guru mengaji yang sederhana itu pernah memimpin perang. Pada 1964 pemerintah Indonesia mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional.

💖 Pesan Moral

  • Kepemimpinan tidak ditentukan oleh kekuatan tubuh. Pengikutnya bertahan bersamanya meski ia sudah tua dan hampir tidak dapat melihat.
  • Kesetiaan bisa rumit. Kisah Pang Laot mengingatkan bahwa orang yang sama bisa disebut pengkhianat sekaligus penolong, tergantung dari mana kita memandang.
  • Pengabdian tak butuh panggung. Di pengasingan, tanpa nama besarnya, ia tetap mengajar siapa saja yang mau belajar.

Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Cut Nyak Dhien, termasuk telaah atas perbedaan tanggal dalam sumber-sumber Indonesia dan kolonial.