Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Tuhan Melihat Kebenaran, tetapi Menunggu

3 menit baca

Vladimirka karya Isaac Levitan (1892), jalan tempat para narapidana dahulu digiring dari arah Vladimir menuju Siberia. Gambar: Isaac Levitan · Public domain · sumber

Ivan Dmitrich Aksionov masih muda, punya dua toko dan sebuah rumah di kota Vladimir. Ia periang, pandai bernyanyi, dan sudah lama meninggalkan kebiasaan mabuk masa bujangnya. Suatu musim panas ia bersiap berangkat ke pekan raya Nizhny Novgorod. Istrinya menahannya.

“Jangan berangkat hari ini. Aku bermimpi buruk. Kamu pulang, dan ketika topimu dibuka, rambutmu sudah putih semua.”

Aksionov tertawa. Baginya itu pertanda untung, dan ia berjanji membawa oleh-oleh mahal.

Di tengah jalan ia menginap sepenginapan dengan seorang saudagar kenalannya. Mereka minum teh, lalu tidur di kamar bersebelahan. Sebelum fajar Aksionov bangun dan berangkat agar perjalanan terasa sejuk. Empat puluh werst kemudian, ketika ia beristirahat sambil memetik gitar, seorang perwira datang dengan dua serdadu. Saudagar itu ditemukan tewas di kamarnya, dan uangnya hilang. Dari tas Aksionov, perwira itu mengeluarkan sebilah pisau berlumur darah.

“Itu bukan pisauku,” katanya gemetar. Suaranya yang goyah justru membuatnya tampak bersalah.

Ia diadili. Istrinya datang ke penjara membawa anak-anak mereka yang masih kecil, satu masih menyusu. Pada akhir pertemuan, perempuan itu bertanya pelan, “Vanya, katakan yang sebenarnya. Benarkah bukan kamu?”

Aksionov menutup wajah dan menangis. “Kamu pun mencurigaiku.”

Sesudah itu ia berhenti mengajukan permohonan. Hanya Tuhan yang tahu kebenaran, pikirnya, hanya kepada-Nya ia akan meminta. Ia dicambuk dan dikirim ke kerja paksa di Siberia.

Dua puluh enam tahun berlalu di sana. Rambutnya seputih salju. Ia tak lagi tertawa, sering berdoa, belajar membuat sepatu, dan dengan upahnya membeli buku riwayat para orang suci. Para penjaga menyukainya, sesama narapidana memanggilnya “Kakek”. Tak ada kabar dari rumah.

Suatu hari datang narapidana baru, lelaki enam puluhan bernama Makar Semyonich, asal Vladimir juga. Ketika mendengar kisah Aksionov, ia menepuk lutut dan berseru heran. Lalu ia berkata, seakan bergurau, bagaimana mungkin pisau dimasukkan ke tas yang ada di bawah kepala orang tidur tanpa membangunkannya?

Aksionov tak pernah bercerita bahwa tas itu ada di bawah kepalanya. Ia segera mengerti. Malam itu ia tak bisa tidur. Masa mudanya, istrinya, anak-anaknya, cambuk di lapangan, semua kembali. Dadanya dipenuhi amarah, dan doa tidak menenangkannya.

Dua minggu kemudian, pada suatu malam, ia melihat tanah berjatuhan dari bawah dipan. Makar diam-diam menggali terowongan dan membuang tanahnya lewat sepatu lars saat kerja di luar. Ia mencengkeram lengan Aksionov. “Diamlah. Kalau kamu buka mulut, kubunuh kamu.”

Terowongan itu ditemukan. Kepala penjara memanggil Aksionov, orang yang terkenal jujur. “Pak Tua, katakan di hadapan Tuhan, siapa yang menggali?”

Bibirnya bergetar lama. Inilah saat membalas dua puluh enam tahun. Ia memandang Makar, lalu berkata, “Saya tidak dapat mengatakannya. Tuhan tidak mengizinkan saya. Lakukan apa yang Tuan mau.”

Malam berikutnya Makar datang ke dipannya dan berlutut dalam gelap.

“Ivan Dmitrich, ampuni aku. Akulah yang membunuh saudagar itu dan menyelipkan pisau ke tasmu. Aku akan mengaku, dan kamu bisa pulang.”

“Pulang ke mana? Istriku sudah mati, anak-anakku sudah lupa.”

Makar membenturkan kepalanya ke lantai sambil menangis. “Dicambuk pun tak sesakit memandangmu sekarang. Kamu mengasihaniku dan tidak melapor. Ampuni aku, demi Tuhan.”

Mendengar tangis itu, Aksionov ikut menangis. “Tuhan akan mengampunimu. Barangkali aku seratus kali lebih buruk darimu.”

Mendadak beban di hatinya lepas. Ia tak lagi merindukan rumah, hanya menanti saat terakhirnya. Makar tetap mengaku. Ketika surat pembebasan tiba, Aksionov sudah meninggal.

💖 Pesan Moral

  • Memaafkan membebaskan pihak yang memaafkan lebih dulu. Beban Aksionov lepas sebelum surat apa pun datang.
  • Balas dendam bisa ditolak meski kesempatannya terbuka lebar. Diamnya Aksionov itulah yang meluluhkan pembunuh tersebut.
  • Satu kecurigaan dari orang tercinta bisa lebih perih daripada vonis hakim. Jaga kepercayaan pada saat seseorang paling terpuruk.
  • Keadilan tidak selalu datang tepat waktu. Kisah ini tidak berpura-pura sebaliknya, tetapi menunjukkan bahwa hati bisa berdamai lebih dulu.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita pendek Leo Tolstoy, “Tuhan Melihat Kebenaran, tetapi Menunggu” (1872).