Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Hoca Duduk Terbalik di Atas Keledai

3 menit baca

Patung Nasreddin Hoca di Turki, duduk menghadap ekor keledai seperti dalam anekdot ini. Gambar: Dennis G. Jarvis · CC BY-SA 2.0 · sumber

Pagi itu pasar Akşehir mendapat tontonan gratis. Nasreddin Hoca lewat di jalan utama dengan menunggang keledainya, tetapi menghadap ke belakang. Wajahnya memandang ekor keledai, punggungnya mengarah ke tempat tujuan, dan di belakang keledai itu berjalan rombongan muridnya dengan wajah salah tingkah.

Pedagang berhenti melayani pembeli. Tukang roti keluar dari tokonya. Anak-anak berlarian mengikuti sambil tertawa.

“Lihat! Hoca sudah gila!” teriak seseorang.

“Keledainya atau orangnya yang salah pasang?” sahut yang lain.

Para murid makin menunduk. Mereka murid seorang alim, calon-calon orang terpelajar, dan kini sekota menonton mereka berjalan mengikuti guru yang menunggang keledai terbalik. Akhirnya murid paling berani mempercepat langkah dan berbisik.

“Hoca, maaf. Semua orang menertawakan kita. Mengapa Hoca duduk seperti ini?”

Hoca menatapnya dengan tenang, seakan yang ditanyakan sangat sepele.

“Coba kamu pikir. Aku guru, kalian murid. Sudah sepantasnya guru berjalan di depan, bukan?”

“Betul, Hoca.”

“Kalau aku di depan dan menghadap ke depan, punggungku menghadap kalian. Membelakangi murid itu tidak sopan. Lagi pula aku tak bisa melihat siapa yang mengantuk. Kalau kalian berjalan di depanku, kalian yang membelakangi gurunya, dan itu lebih tidak sopan lagi.”

Murid itu mengangguk pelan, mencoba mengikuti.

“Nah, setelah lama kupikirkan, inilah satu-satunya jalan keluar. Aku tetap di depan, kalian tetap di belakang, dan kita tetap saling berhadapan. Semua aturan terpenuhi. Tidak ada yang dirugikan, kecuali barangkali keledai ini, tetapi dia belum mengeluh.”

Murid itu membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia mencoba mencari kesalahan dalam penjelasan itu dan tidak segera menemukannya.

Seorang pedagang yang ikut mendengar berseru, “Tetapi Hoca, bagaimana kamu tahu ke mana keledai itu berjalan?”

Hoca mengangkat bahu. “Itu urusan keledainya. Kalau dia salah jalan, kita semua akan tahu bersama-sama. Setidaknya kita akan tersesat dengan sopan.”

Tawa di pasar pecah lagi, tetapi kali ini agak lain nadanya. Beberapa orang tertawa sambil mengangguk-angguk, seolah baru mendengar sesuatu yang masuk akal dengan cara yang sangat tidak masuk akal.

Rombongan itu terus berjalan melewati pasar. Sang guru memandang muridnya, sang murid memandang gurunya, dan keledai yang tidak pernah diajak berunding membawa mereka semua ke arah yang hanya ia sendiri ketahui.

Sampai hari ini, di Turki, Nasreddin Hoca paling sering digambarkan seperti itu: bersorban besar, duduk terbalik di atas keledainya.

💖 Pesan Moral

  • Yang tampak bodoh belum tentu tanpa alasan. Tanyakan dulu sebelum ikut menertawakan.
  • Tertawa bersama lebih baik daripada malu sendirian. Orang yang bisa menertawakan dirinya sulit dipermalukan.
  • Kalau memang ingin mengurus semua aturan sopan santun sekaligus, pastikan masih ada yang melihat jalan.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot Nasreddin Hoca, Turki. Alasan Hoca duduk terbalik berbeda-beda antarversi, dan ini mengikuti versi tentang murid-muridnya.