Si Kelingking dari Jambi
Rumpun bambu, tempat Si Kelingking bersembunyi dan menakuti para raksasa. Gambar: Hiroshi Yoshida · Public domain · sumber
Sepasang suami istri miskin di negeri Jambi sudah lama berdoa minta dikaruniai anak. Ketika doa itu terkabul, mereka menghitung hari dengan gembira. Bayi itu lahir dengan selamat, seorang anak laki-laki. Hanya saja, tubuhnya sebesar jari kelingking.
Mereka memandang bayi mungil itu lama sekali, lalu tersenyum. Inilah anak yang mereka minta. Ia diberi nama Si Kelingking, dan orang tuanya merawatnya sebaik mungkin.
Tahun berganti, dan ia tumbuh menjadi pemuda yang cerdik, tetapi tubuhnya tetap sebesar kelingking. Anak-anak tetangga sering menertawakannya. Si Kelingking tidak banyak membalas. Ia lebih senang memperhatikan, menyimak, dan berpikir.
Suatu musim, ketenangan kampung itu berakhir. Segerombolan makhluk raksasa datang entah dari mana. Mereka mencuri dan memakan ternak penduduk, dan makin hari makin berani mendekati rumah. Tidak ada yang sanggup melawan. Warga berembuk, lalu memutuskan mengungsi meninggalkan kampung.
Saat semua orang mengemas barang, Si Kelingking berkata kepada orang tuanya, “Aku tinggal di sini.”
Mereka terkejut. Orang-orang lain tertawa pahit. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang yang tingginya tidak sampai mata kaki? Tetapi tekadnya tidak bisa diubah, dan akhirnya rombongan itu berangkat tanpa dia.
Kampung menjadi sunyi. Si Kelingking duduk berpikir. Ia tidak mungkin melawan dengan tenaga, jadi ia harus memakai satu-satunya hal yang tidak dipunyai para raksasa itu: ukuran tubuhnya. Ia masuk ke dalam sebuah ruas bambu yang berlubang kecil dan menunggu.
Malam itu para raksasa datang dengan langkah berdentum. Mereka heran mendapati kampung kosong. Tiba-tiba terdengar suara berat menggema dari entah mana. Ruas bambu itu membuat suara kecilnya menjadi besar dan bergaung.
“Siapa yang berani masuk ke kampungku?”
Para raksasa menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapa-siapa. Suara itu terdengar lagi, lebih keras. Makhluk-makhluk yang biasa membuat orang lari itu kini saling berpandangan, takut pada sesuatu yang tidak kelihatan. Akhirnya mereka lari tunggang-langgang keluar dari kampung dan tidak pernah kembali.
Warga pulang dengan sukacita, dan kabar itu sampai ke raja. Si Kelingking dipanggil ke istana dan diberi hadiah. Raja bahkan menawarkan putrinya. Banyak orang mencemooh, tetapi sang putri tetap menerima pinangan pemuda sekecil itu. Raja juga memberikan sebidang tanah dan para pengawal untuknya.
Setelah menikah, sang istri memperhatikan kejadian aneh. Setiap kali Si Kelingking diam-diam keluar rumah, seorang pemuda tampan datang menanyakan kabarnya. Karena curiga, suatu hari ia mengikuti suaminya sampai ke sebuah telaga.
Dari balik semak ia melihat Si Kelingking menanggalkan pakaiannya dan berendam. Yang keluar dari air adalah pemuda tampan itu. Rupanya wujud kecil itu terikat pada pakaiannya.
Sang istri mengambil pakaian tersebut, pulang, dan membakarnya.
Si Kelingking kebingungan mencari bajunya, lalu pulang dalam wujud pemuda itu dan meminta maaf karena merahasiakannya selama ini. Istrinya tersenyum dan mengakui perbuatannya. Sejak hari itu ia tidak pernah kecil lagi. Tetapi orang tetap memanggilnya Si Kelingking, dan ia tidak pernah keberatan.
💖 Pesan Moral
- Kekurangan bisa menjadi keunggulan bila tempatnya tepat. Hanya tubuh sekecil itu yang muat di dalam ruas bambu.
- Keberanian dimulai saat orang lain pergi. Ia bertahan ketika tidak ada yang percaya kepadanya.
- Lihat orang dari perbuatannya. Sang putri memilih Si Kelingking saat ia masih kecil, bukan setelah tampan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi cerita rakyat Jambi.