Bisyr si Tanpa Alas Kaki
Kaligrafi basmalah pada sehelai naskah lama, kalimat yang sama dengan yang dipungut Bisyr dari jalan. Gambar: Tidak diketahui · Public domain · sumber
Di jalanan Baghdad pada abad kesembilan, orang mengenal Bisyr sebagai pemabuk yang tak punya masa depan. Ia lahir di Merv, lalu menetap di Baghdad, dan hari-harinya habis di tempat minum bersama kawan-kawan yang sama kacaunya. Tak seorang pun mengira nama itu kelak akan disebut orang dengan penuh hormat.
Suatu hari, dengan langkah sempoyongan, Bisyr melihat secarik kertas tergeletak di jalan. Ia memungutnya. Di kertas itu tertulis Bismillahirrahmanirrahim.
Entah apa yang bergerak dalam dirinya. Barangkali ia merasa tak pantas nama itu terinjak-injak di tanah. Bisyr membeli sedikit minyak mawar, mengharumkan kertas itu, lalu menyimpannya baik-baik di rumah. Setelah itu ia kembali ke kebiasaannya, dan peristiwa itu barangkali sudah ia lupakan.
Malam itu, seorang lelaki saleh di kota yang sama bermimpi. Dalam mimpi ia diperintahkan menyampaikan pesan kepada Bisyr: engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Aku mengharumkan namamu.
Lelaki itu terbangun bingung. Bisyr? Si pemabuk itu? Pasti ia salah lihat. Ia berwudu, salat, dan tidur lagi. Mimpi yang sama datang. Ia mengulanginya, dan mimpi itu datang untuk ketiga kalinya.
Pagi harinya ia pergi mencari Bisyr. Orang-orang memberitahunya bahwa Bisyr sedang berada di sebuah pesta minum. Ia mendatangi rumah itu dan meminta bertemu.
“Dia sudah mabuk, tak bisa diajak bicara,” kata mereka.
“Katakan padanya, aku membawa pesan.”
“Pesan dari siapa?” tanya Bisyr ketika kabar itu sampai kepadanya.
“Pesan dari Allah.”
Mendengar itu, Bisyr menangis. Ia bertanya apakah pesan itu berisi teguran atau hukuman. Lalu ia menoleh kepada teman-teman minumnya dan mengucapkan selamat tinggal. Ia telah dipanggil, katanya, dan mereka tidak akan pernah lagi melihatnya dalam urusan ini.
Ia berjalan keluar dan tidak pernah kembali. Sejak hari itu hidupnya berubah total. Ia berjalan tanpa alas kaki ke mana pun, sampai orang menjulukinya Bisyr al-Hafi, Bisyr Si Tanpa Alas Kaki. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab bahwa ia bertelanjang kaki pada hari ia berdamai dengan Tuhan, dan sejak itu ia malu memakai sepatu. Lagi pula, katanya, bumi ini dihamparkan Allah seperti permadani, dan tidak pantas menginjak permadani raja dengan sepatu.
Bertahun-tahun kemudian, Imam Ahmad bin Hanbal, ulama besar yang diakui di seluruh Baghdad, sering datang menemuinya. Murid-muridnya memprotes. Mengapa guru besar seperti dia mengejar-ngejar bekas orang sesat? Ahmad menjawab bahwa dalam semua ilmu yang mereka sebutkan, ia memang lebih tahu. Tetapi Bisyr lebih mengenal Tuhannya.
💖 Pesan Moral
- Tidak ada perbuatan baik yang terlalu kecil. Hidup Bisyr berbalik karena secarik kertas yang dipungut dari jalan.
- Jangan menutup pintu bagi siapa pun. Lelaki saleh itu hampir tidak percaya pesannya sendiri, karena ia sudah telanjur memberi cap pada Bisyr.
- Tobat yang sungguh-sungguh punya tanggal. Bisyr tidak menunda sampai esok, dan ia meninggalkan pesta itu saat itu juga.
- Ilmu dan kedekatan pada Tuhan tidak selalu berjalan beriringan. Orang sebesar Ahmad bin Hanbal mengakuinya tanpa malu.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Bisyr bin al-Harits dalam Tadhkirat al-Awliya karya Fariduddin Attar.