Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Tiga Pertanyaan Sang Raja

3 menit baca

Sang raja mencari jawabannya pada seorang pertapa yang hidup sederhana. Gambar: John Singer Sargent · CC0 · sumber

Seorang raja pernah berpikir bahwa ia tidak akan pernah gagal dalam urusan apa pun, asalkan ia tahu jawaban dari tiga pertanyaan: Kapan waktu yang paling tepat untuk melakukan sesuatu? Siapa orang yang paling penting? Dan apa hal yang paling penting untuk dilakukan?

Ia mengumumkan hadiah besar bagi siapa saja yang bisa menjawabnya. Para cendekiawan berdatangan, tetapi jawaban mereka saling bertentangan. Ada yang bilang ia perlu jadwal yang ketat, ada yang bilang ia butuh dewan penasihat, ada yang bilang orang terpenting adalah para dokter, prajurit, atau pendeta. Sang raja tidak puas.

Akhirnya ia memutuskan untuk menemui seorang pertapa yang terkenal bijaksana. Pertapa itu tinggal di hutan dan hanya mau menerima rakyat biasa, maka sang raja menyamar dengan pakaian sederhana dan meninggalkan pengawalnya di kejauhan.

Ketika raja tiba, pertapa tua itu sedang mencangkul kebunnya dengan susah payah. Raja menyampaikan tiga pertanyaannya, tetapi pertapa itu tidak menjawab dan terus mencangkul. Melihat orang tua itu kelelahan, raja menawarkan diri untuk menggantikannya. Ia mencangkul satu bedeng, lalu satu lagi, sampai matahari mulai terbenam.

Tiba-tiba seorang pria berjanggut berlari keluar dari hutan sambil memegangi perutnya yang berdarah. Ia jatuh pingsan di depan mereka. Raja segera membersihkan luka itu, membalutnya dengan sapu tangan dan bajunya sendiri, lalu memberinya minum. Sepanjang malam raja merawatnya hingga tertidur kelelahan di ambang pintu pondok.

Pagi harinya pria itu menatap raja dan berbisik, “Ampuni hamba, Baginda.”

“Aku tidak mengenalmu, dan tidak ada yang perlu kuampuni,” jawab raja.

“Hamba adalah musuh Baginda. Baginda pernah menghukum saudara hamba dan merampas hartanya. Hamba bersumpah membalas dendam dan menunggu Baginda pulang dari sini untuk membunuh Baginda. Tetapi para pengawal mengenali hamba dan melukai hamba. Kalau Baginda tidak merawat hamba, hamba pasti sudah mati. Mulai hari ini, hamba akan melayani Baginda dengan setia.”

Raja gembira bisa berdamai dengan musuhnya. Ia berjanji mengembalikan harta pria itu. Lalu, sebelum pulang, ia sekali lagi meminta jawaban dari sang pertapa.

“Kau sudah mendapat jawabanmu,” kata pertapa itu. “Seandainya kemarin kau tidak kasihan padaku dan langsung pulang, orang itu akan menyerangmu. Jadi waktu terpenting adalah saat kau mencangkul, orang terpenting adalah aku, dan hal terpenting adalah menolongku. Kemudian, ketika orang itu datang, waktu terpenting adalah saat kau merawatnya, orang terpenting adalah dia, dan hal terpenting adalah berbuat baik kepadanya.”

“Ingatlah: hanya ada satu waktu yang penting, yaitu sekarang, karena hanya saat inilah kita berkuasa atas diri kita. Orang yang paling penting adalah orang yang sedang bersamamu. Dan hal yang paling penting adalah berbuat baik kepadanya.”

💖 Pesan Moral

  • Waktu yang paling penting adalah sekarang. Masa lalu sudah lewat, masa depan belum tentu kita miliki.
  • Orang yang paling penting adalah orang yang ada di hadapan kita, siapa pun dia.
  • Kebaikan kecil hari ini bisa mengubah musuh menjadi sahabat.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita pendek Leo Tolstoy, “Tiga Pertanyaan” (1885).