Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Tenali Raman dan Kucing yang Takut Susu

3 menit baca

Kucing dan anaknya minum susu, litografi abad ke-19. Kucing Tenali justru lari melihat susu. Gambar: Gottfried Mind (pelukis); Joseph Brodtmann (litografer) · Public domain · sumber

Pada masa Raja Krishnadevaraya memerintah Kerajaan Wijayanagara di India selatan, kota itu diserbu tikus. Tikus-tikus menggerogoti lumbung, pakaian, bahkan naskah-naskah di istana. Sang raja pun mengambil keputusan yang menurutnya sangat cerdas.

Ia membagikan seekor kucing kepada setiap keluarga di kota, termasuk kepada para pejabat istana. Bersama kucing itu, setiap orang juga diberi seekor sapi perah. “Berikan susu sapi itu kepada kucing kalian,” titah raja, “supaya kucingnya sehat dan kuat mengusir tikus. Beberapa bulan lagi aku akan memeriksa kucing siapa yang paling gemuk.”

Salah satu yang menerima kucing dan sapi adalah Tenali Raman, pujangga istana yang terkenal jahil dan cerdik. Pada hari pertama, ia menuangkan semangkuk susu yang masih panas mendidih untuk kucingnya. Kucing yang kelaparan itu langsung menjilatnya, dan lidahnya pun melepuh. Ia melompat mundur sambil mengeong keras.

Sejak hari itu, setiap kali melihat mangkuk susu, kucing Tenali lari terbirit-birit. Akibatnya, susu dari sapi itu dinikmati sendiri oleh Tenali dan keluarganya setiap pagi. Kucingnya terpaksa berburu tikus untuk makan, dan tubuhnya tetap ramping.

Beberapa bulan kemudian, raja memanggil semua orang untuk membawa kucingnya ke istana. Kucing-kucing yang lain tampak gemuk, berbulu mengilap, dan malas. Kucing Tenali kurus dan lincah.

Raja mengerutkan dahi. “Tenali! Mengapa kucingmu kurus begini? Kau pasti tidak memberinya susu!”

“Ampun, Baginda,” jawab Tenali dengan wajah polos. “Hamba sudah berusaha. Tapi kucing hamba ini aneh sekali. Ia tidak mau minum susu.”

“Omong kosong! Mana ada kucing yang tidak mau minum susu?” Raja menyuruh pelayan membawakan semangkuk susu dan meletakkannya di depan kucing Tenali.

Begitu melihat mangkuk itu, kucing tersebut melonjak ketakutan dan lari bersembunyi di balik tiang. Seluruh balairung tertawa. Raja pun terheran-heran, sampai akhirnya Tenali menceritakan apa yang terjadi.

Raja hampir marah, tetapi Tenali buru-buru menambahkan, “Lagi pula, Baginda, coba perhatikan. Kucing-kucing yang gemuk itu sudah kenyang minum susu, jadi untuk apa mereka repot berburu tikus? Kucing hamba yang lapar inilah yang setiap hari menangkap tikus. Bukankah itu tujuan Baginda yang sebenarnya?”

Raja terdiam, lalu tertawa. Ia mengakui bahwa Tenali, dengan cara yang jahil, telah menunjukkan kekeliruan dalam rencananya. Dan menurut kisahnya, Tenali pun mendapat hadiah.

💖 Pesan Moral

  • Jangan lupa tujuan yang sebenarnya. Kucing yang gemuk belum tentu kucing yang bekerja.
  • Pengalaman buruk bisa membekas lama; “kucing yang pernah tersiram air panas” akan takut pada air dingin.
  • Kenyamanan berlebihan bisa membuat orang kehilangan semangat berusaha.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat India selatan tentang Tenali Raman (Tenali Ramakrishna), pujangga di istana Raja Krishnadevaraya dari Wijayanagara pada abad ke-16. Kisah-kisah jenakanya merupakan tradisi lisan, bukan catatan sejarah.