La Dana dan Kerbau Berdua
Tedong bonga, kerbau belang yang sangat berharga bagi masyarakat Toraja. Gambar: rullimarasakti · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di tanah Toraja, Sulawesi Selatan, orang mengenal seorang tokoh jenaka bernama La Dana. Ia terkenal cerdik, pandai bicara, dan sering kali agak licik. Banyak cerita lucu tentang dirinya yang beredar dari mulut ke mulut.
Suatu ketika, La Dana dan seorang sahabatnya menghadiri upacara adat di sebuah kampung. Dalam upacara besar seperti itu, tuan rumah biasa membagikan daging kerbau kepada para tamu. La Dana dan sahabatnya masing-masing dijanjikan bagian.
La Dana punya ide. “Sahabatku, daripada kita masing-masing membawa pulang sepotong daging, bagaimana kalau kita minta seekor kerbau hidup saja untuk berdua? Bisa kita pelihara sampai besar, nilainya jauh lebih tinggi.”
Sahabatnya setuju. Mereka pun membawa pulang seekor kerbau muda. La Dana lalu mengusulkan pembagian. “Biar adil, kau memiliki bagian depan, aku bagian belakang.”
Sahabatnya mengangguk tanpa banyak berpikir. Hari-hari berikutnya, ia sibuk mencari rumput dan memberi makan kerbau itu, karena mulut kerbau ada di bagian depan, bagiannya. Ia juga yang memandikan kepala kerbau dan menjaganya agar tidak kabur.
Sementara itu, La Dana cukup duduk santai. Setiap kali kerbau itu membuang kotoran, La Dana mengumpulkannya sebagai pupuk sawah. “Ini kan dari bagianku,” katanya sambil tersenyum.
Lama-lama sahabatnya merasa ada yang tidak beres. Ia yang bersusah payah, tetapi La Dana yang menikmati hasilnya. Suatu hari ia kesal dan berkata, “Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku ingin menyembelih bagianku saja!”
La Dana langsung memasang wajah cemas. “Jangan! Kalau bagian depan disembelih, bagian belakangku ikut mati. Kau harus mengganti kerugianku.”
Sahabatnya bingung dan terpojok. Dalam salah satu versi cerita, akhirnya ia menyerahkan seluruh kerbau kepada La Dana agar urusan selesai. Dalam versi lain, para tetua kampung turun tangan dan menegur La Dana supaya membagi beban dan hasil secara adil.
Orang-orang Toraja tertawa mendengar kisah ini, tetapi tawa itu sekaligus menjadi peringatan. Kecerdikan yang hanya menguntungkan diri sendiri dan merugikan sahabat bukanlah kepintaran yang patut dibanggakan. Di sisi lain, sang sahabat juga belajar sesuatu: jangan pernah menyetujui perjanjian sebelum benar-benar memahami isinya.
💖 Pesan Moral
- Pahami dulu sebuah kesepakatan sebelum menyetujuinya.
- Kerja sama yang adil berarti berbagi beban dan hasil, bukan hanya mengambil untung.
- Kecerdikan yang merugikan teman lambat laun merusak persahabatan dan nama baik.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat jenaka “La Dana dan Kerbaunya” dari Toraja, Sulawesi Selatan. Jalan cerita berbeda-beda menurut penuturnya.