Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Mullah Do Piaza dan Kandang Ayam Raja

3 menit baca

Sampul Akbarnama dari masa Mughal, mengingatkan pada sampul-sampul indah di perpustakaan kaisar. Gambar: Tidak diketahui · Public domain · sumber

Di India pada masa Kaisar Akbar, dikenal sebuah nama yang namanya saja sudah membuat orang tersenyum: Mullah Do Piaza, sang Mullah Dua Bawang. Menurut cerita rakyat, ia seorang terpelajar yang menguasai bahasa Persia dan Arab, filsafat, serta ilmu perbintangan. Dengan bekal ilmu sebanyak itu ia datang ke Agra, berharap dapat mengabdi di istana yang terkenal mencintai orang-orang pandai.

Berkat seorang pelindung, ia berhasil mendapat jabatan di lingkungan istana. Hari pengumuman pun tiba. Sang kaisar memandangnya, berpikir sejenak, dan menempatkan sang cendekiawan sebagai pengurus kandang ayam kerajaan.

Kandang ayam! Orang yang hafal syair Persia dan peta bintang itu kini harus mengurus ayam. Hatinya hancur, tetapi ia menahan diri. Ia menggulung lengan bajunya dan masuk ke kandang. Setiap hari ia memeriksa makanan, tempat bertelur, dan kebersihan. Ayam-ayam itu berkembang pesat, gemuk, dan rajin bertelur.

Pada suatu hari, Raja Todar Mal, menteri keuangan yang terkenal teliti, sedang memeriksa pembukuan istana. Dahinya berkerut. Biaya kandang ayam itu kecil sekali, jauh di bawah yang semestinya. Ia melapor kepada Akbar, dan sang kaisar langsung memanggil Mullah Do Piaza.

“Kandangku penuh ayam gemuk,” kata Akbar, “tetapi biayanya hampir tidak ada. Dengan apa kaupelihara mereka?”

Dengan tenang sang Mullah menjelaskan. Dapur istana setiap hari membuang tangkai sayur, kulit-kulit, dan roti chapati yang sudah basi. Bahkan adonan yang dipakai untuk menyegel panci pun dibuang. Semua itu ia kumpulkan. Dari yang terbuang itulah ayam-ayam kerajaan makan kenyang.

Akbar tersenyum puas dan menaikkan pangkatnya. Mullah Do Piaza kini menjadi pustakawan kerajaan. Ia berharap ini saatnya ia dihargai sebagai ulama, walaupun pekerjaannya ternyata jauh dari ruang sidang. Ia kecewa lagi, tetapi lagi-lagi ia tidak mengeluh.

Setahun berlalu. Suatu hari sang kaisar berkunjung ke perpustakaan dan berhenti di depan rak. Semua bukunya kini terbungkus sampul sutra, beludru, dan kain brokat yang indah. Ruangan itu berkilau seperti peti harta.

“Berapa harga semua kain ini?” tanyanya. “Aku tidak ingat pernah membiayainya.”

“Tidak sepeser pun, Paduka,” jawab sang Mullah.

Ia lalu menerangkan. Surat-surat permohonan kepada kaisar biasanya datang dalam kantong kain mewah. Setelah surat dibaca, kantong-kantong itu dibuang di belakang Diwan-e-Aam, balairung umum. Ia menyuruh mengumpulkannya, lalu para penjahit istana menjahitnya menjadi sampul buku.

Akbar menatapnya beberapa saat, kemudian tersenyum. Orang yang mampu menghidupi ayam dari sisa dapur dan menyampuli perpustakaan dari kantong buangan pastilah bisa dipercaya dengan urusan yang lebih besar. Hari itu juga ia diberi tempat di istana.

💖 Pesan Moral

  • Kerjakan tugas kecil seolah-olah tugas besar. Sang Mullah naik karena cara ia mengurus ayam, bukan karena gelarnya.
  • Yang dibuang orang bisa menjadi modal bagi yang mau berpikir. Sering kali kita tidak perlu tambahan anggaran, melainkan tambahan perhatian.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat India tentang Mullah Do Piaza, salah satu versi. Tokoh ini hidup dalam kisah rakyat yang tersebar sejak abad ke-19; catatan sezaman dari masa Akbar tidak menyebutkannya.