Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Putri Mambang Linau

3 menit baca

Awan di atas Sungai Siak, Riau, negeri tempat kisah Putri Mambang Linau dituturkan. Gambar: Okutabia · CC0 · sumber

Bujang Enok hidup sendiri di rumah kecilnya dan setiap hari masuk hutan mencari kayu. Suatu pagi seekor ular berbisa muncul di depannya. Ular itu sudah lama meresahkan penduduk. Dengan sigap Bujang Enok membunuhnya, lalu melanjutkan pekerjaan seolah tidak terjadi apa-apa.

Dalam perjalanan pulang, ia melewati sekelompok perempuan yang sedang bercakap-cakap tentang perbuatannya tadi. Ia heran, bagaimana mereka bisa tahu? Tetapi ia terlalu lelah untuk bertanya.

Sampai di rumah, ia pergi ke dapur hendak memasak dan tertegun. Di atas meja sudah tertata makanan yang masih hangat. Tidak ada seorang pun di rumah. Karena lapar, ia makan saja. Rasanya lezat sekali.

Esoknya ia pura-pura berangkat, lalu mengintip dari balik dinding. Di dapurnya ada tujuh perempuan cantik yang sedang memasak sambil berbincang. Mereka adalah kelompok yang ditemuinya kemarin. Mata Bujang Enok tidak bisa lepas dari perempuan berselendang jingga.

Selesai memasak, ketujuhnya keluar rumah dan terbang ke angkasa. Tetapi hanya enam yang naik. Si selendang jingga tertinggal di halaman, mencari-cari dengan panik. Selendangnya hilang, dan tanpa itu ia tidak bisa terbang. Ia pun menangis.

Bujang Enok melihat sehelai kain jingga tersangkut di pintu rumahnya. Ia mengambilnya, lalu keluar dan memberikannya kepada perempuan itu.

Ia tidak menyembunyikan selendang itu. Ia mengembalikannya, sambil memberanikan diri mengatakan apa yang ada di hatinya.

“Tinggallah di sini,” katanya. “Menikahlah denganku.”

Perempuan yang bernama Putri Mambang Linau itu diam sejenak, lalu menjawab, “Aku bersedia, dengan satu syarat. Seumur hidupmu, jangan pernah memintaku menari.”

Bujang Enok tidak bertanya mengapa. Ia berjanji.

Tahun demi tahun berlalu dengan bahagia. Keluarga kecil itu dikenal suka menolong orang yang kesusahan, dan kabar baik mereka sampai ke telinga raja. Bujang Enok diangkat menjadi kepala kampung.

Suatu hari raja mengadakan pesta besar di istana. Semua kepala kampung diundang bersama istri mereka. Di tengah pesta, raja bertitah agar para istri kepala kampung menari bersama di hadapannya.

Dada Bujang Enok terasa sesak. Melawan titah raja berarti aib dan bahaya. Memenuhinya berarti melanggar janji yang sudah ia pegang bertahun-tahun. Dengan suara pelan, ia menceritakan kebimbangannya kepada istrinya.

Putri Mambang Linau menatap suaminya lama. Ia tidak mengeluh. Ia hanya tidak ingin melihat suaminya celaka. Ia bangkit, berjalan ke tengah balairung, dan mulai menari.

Tariannya sangat indah. Seisi istana terdiam. Tangannya bergerak ringan, langkahnya makin ringan, dan perlahan kakinya tidak lagi menyentuh lantai. Tubuhnya naik sedikit demi sedikit, melewati kepala para tamu, lalu terus naik ke angkasa.

Barulah Bujang Enok paham arti syarat itu. Menari adalah jalan pulang bagi istrinya, dan selama ini sang putri menahan diri demi tetap bersamanya.

Ia hanya bisa memandangi langit. Raja, yang melihat kesetiaannya, mengangkatnya menjadi penghulu istana. Ia mengabdi kepada rakyat sampai akhir hayatnya.

💖 Pesan Moral

  • Janji paling berat diuji saat hidup sedang baik. Bertahun-tahun janji itu mudah dijaga, hingga satu perintah mengubah segalanya.
  • Syarat orang yang kita cintai layak dipahami. Bujang Enok tidak pernah bertanya mengapa, dan baru mengerti saat sudah terlambat.
  • Kekuasaan bisa memaksa orang memilih hal yang mustahil. Pemimpin perlu sadar bahwa perintah kecilnya bisa berharga mahal bagi orang lain.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Melayu Riau.