Gagak dan Kalung Emas
Gagak di atas batu, lukisan tinta Kawanabe Kyosai, sebagai gambaran sang tokoh yang cerdik. Gambar: Kawanabe Kyōsai · CC0 · sumber
Sepasang gagak bersarang di sebuah pohon beringin yang sudah tua. Mereka hidup tenang di sana, kecuali pada satu hal: di lubang batang pohon itu tinggal seekor ular hitam. Setiap kali telur gagak menetas, ular itu merayap naik melalui rongga batang dan memakan anak-anak mereka sebelum sempat berbulu.
Sekali, dua kali, sarang itu kosong lagi. Induk gagak menangis di dahan.
“Suamiku, ayo kita pergi dari sini. Selama ular itu ada, kita takkan pernah punya keluarga. Lambat laun ia juga akan memakan kita.”
Gagak jantan menatap sarangnya. Ia sudah lama tinggal di pohon itu. Ia ingin melawan, tetapi tahu paruhnya tak ada apa-apanya dibanding taring ular.
“Aku juga marah. Namun kita tak bisa menang dengan tenaga. Aku akan menemui temanku si jakal. Ia lebih pandai dariku.”
Mereka menemui seekor jakal yang cerdik dan menceritakan kesedihan mereka. Jakal itu mendengarkan dengan tenang.
“Jangan pindah, dan jangan bertarung,” katanya. “Apa yang tak bisa dicapai dengan kekuatan, kadang bisa dicapai dengan akal. Pergilah ke tempat orang-orang kaya. Bila ada yang lengah, ambil seuntai rantai emas atau perhiasannya. Terbanglah pelan-pelan, biar orang-orang melihatmu dan mengejarmu. Lalu jatuhkan perhiasan itu di lubang ular. Sisanya akan diselesaikan oleh orang-orang itu.”
Induk gagak langsung terbang. Ia berputar di atas kota sampai melihat sebuah kolam di taman istana. Para wanita istana sedang mandi. Perhiasan mereka, kalung dan cincin, serta pakaian mereka, diletakkan di tepi kolam, dan tak seorang pun menjaganya.
Ia menukik, menyambar seuntai rantai emas, lalu naik perlahan, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu cepat. Para wanita menjerit. Para pengawal istana berlarian dengan tongkat di tangan, mengikuti bayangan hitam di langit.
Gagak itu terbang lurus ke beringin tua, dan dengan semua mata mengikutinya, ia menjatuhkan rantai emas itu ke dalam lubang ular.
Para pengawal tiba terengah-engah. Mereka melongok ke lubang, dan di sana ular hitam mengembangkan tudungnya, menghalangi harta raja. Tanpa banyak bicara mereka menghantamkan tongkat sampai ular itu mati, lalu mengambil rantai emas dan pulang.
Tak ada yang pernah tahu tentang gagak, jakal, dan pohon tua itu. Bagi para pengawal, hari itu mereka hanya menemukan barang hilang. Bagi sepasang gagak, itulah hari ketika telur-telur mereka akhirnya aman. Mereka tinggal di pohon itu selanjutnya dengan tenang, dan anak-anak mereka tumbuh besar.
💖 Pesan Moral
- Otak bisa mengalahkan otot. Gagak tak perlu lebih kuat dari ular; ia hanya perlu rencana yang lebih baik.
- Minta nasihat pada saat susah. Orang yang mau bertanya sering menemukan jalan yang tak terlihat ketika ia sedang marah dan takut.
- Tak semua masalah perlu ditinggalkan. Sebelum menyerah dan pindah, periksa dulu apakah masih ada cara lain.
- Yang kuat pun punya titik lemah. Ular yang ditakuti di sarang tak berdaya menghadapi orang yang mencari harta rajanya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah gagak betina dan ular hitam dalam Panchatantra, Buku I, kumpulan fabel India kuno; salah satu versi, mengikuti terjemahan Arthur W. Ryder.