Ubuntu: Aku Ada karena Kita Ada
Dua anak bergandengan tangan di Yelwa, Nigeria: semangat Ubuntu dalam satu gambar. Gambar: Jenness, Aylette · Public domain · sumber
Ada sebuah kisah pendek yang beredar luas di seluruh dunia dan sering dipakai untuk menjelaskan filosofi Afrika yang disebut Ubuntu. Asal-usul kisah ini tidak jelas dan mungkin bukan peristiwa nyata, tetapi pesannya menyentuh banyak orang.
Konon, seorang peneliti dari negeri jauh sedang tinggal di sebuah desa di Afrika bagian selatan. Ia ingin memahami cara hidup masyarakat setempat. Suatu sore, ia mengajak anak-anak desa bermain sebuah permainan.
Ia meletakkan sebuah keranjang penuh buah-buahan manis di bawah sebatang pohon, agak jauh dari tempat anak-anak berkumpul. Lalu ia berkata, “Ayo kita berlomba. Siapa yang pertama kali sampai di pohon itu, dia boleh memiliki semua buah di keranjang.”
Ia memberi aba-aba. “Siap… mulai!”
Tetapi anak-anak itu tidak berlari berpencar seperti yang ia bayangkan. Mereka saling berpandangan, lalu bergandengan tangan. Bersama-sama, mereka berlari menuju pohon itu, tiba pada saat yang sama, lalu duduk melingkar dan membagi buah-buahan itu sama rata. Mereka makan sambil tertawa gembira.
Peneliti itu heran. “Kenapa kalian berlari bersama-sama? Salah satu dari kalian bisa mendapatkan semua buah itu untuk dirinya sendiri.”
Seorang anak menjawab, “Ubuntu. Bagaimana mungkin salah satu dari kami bisa bahagia, kalau yang lain sedih?”
Benar atau tidaknya peristiwa itu, kata Ubuntu sendiri sungguh ada. Dalam bahasa-bahasa Nguni seperti Zulu dan Xhosa, ada ungkapan “umuntu ngumuntu ngabantu”, yang kurang lebih berarti: seseorang menjadi manusia melalui manusia lain. Sering diterjemahkan secara sederhana sebagai: “Aku ada karena kita ada.”
Uskup Agung Desmond Tutu dan Nelson Mandela, dua tokoh besar Afrika Selatan, sering berbicara tentang Ubuntu. Menurut Tutu, orang yang memiliki Ubuntu adalah orang yang terbuka, mau menolong, dan tidak merasa terancam oleh keberhasilan orang lain, karena ia tahu dirinya adalah bagian dari keseluruhan yang lebih besar. Semangat inilah yang ikut mengilhami jalan rekonsiliasi Afrika Selatan setelah berakhirnya apartheid.
Di Indonesia, kita mengenal semangat serupa dalam kata gotong royong. Kita hidup dalam dunia yang sering mengajarkan persaingan: siapa tercepat, siapa terkaya, siapa nomor satu. Ubuntu mengingatkan kita bahwa kebahagiaan yang dinikmati sendirian sering terasa hampa, sementara kebahagiaan yang dibagi justru berlipat ganda.
Mungkin kita tidak bisa mengubah dunia sekaligus, tetapi kita bisa memulai dari lingkaran kecil kita sendiri: berbagi kesempatan dengan rekan kerja, merayakan keberhasilan teman, dan memastikan tidak ada yang tertinggal.
💖 Pesan Moral
- Kita menjadi manusia seutuhnya melalui hubungan dengan sesama.
- Kebahagiaan yang dibagi akan berlipat ganda; kemenangan yang dinikmati sendirian sering terasa hampa.
- Kerja sama dan kepedulian bisa lebih berharga daripada persaingan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot populer yang penulis aslinya tidak diketahui, tentang filosofi Ubuntu dari masyarakat berbahasa Nguni di Afrika bagian selatan.