“Oh, Benarkah Begitu?”
Potret diri Hakuin, guru Zen yang menjawab fitnah dengan "Oh, benarkah begitu?" Gambar: Hakuin Ekaku (self-portrait) · Public domain · sumber
Guru Zen Hakuin hidup di sebuah desa di Jepang pada abad ke-18. Para tetangga menghormatinya sebagai biksu yang hidup bersih dan sederhana.
Tidak jauh dari kuilnya tinggal sebuah keluarga pemilik toko makanan. Mereka punya seorang putri yang cantik. Suatu hari, tanpa diduga, orang tuanya mendapati bahwa putri mereka hamil.
Orang tua itu sangat marah dan malu. Mereka mendesak putrinya untuk menyebutkan siapa ayah dari bayi itu. Lama gadis itu bungkam, tetapi akhirnya, karena terdesak, ia menyebut satu nama: Hakuin.
Dengan murka, kedua orang tua itu mendatangi kuil. Mereka memaki-maki sang guru di depan banyak orang dan menuduhnya telah merusak kehormatan keluarga mereka.
Hakuin mendengarkan semuanya dengan tenang. Lalu ia hanya berkata:
“Oh, benarkah begitu?”
Ketika bayi itu lahir, keluarga tersebut membawanya ke kuil dan menyerahkannya kepada Hakuin. “Ini anakmu, urus sendiri!”
Pada saat itu nama baik Hakuin sudah hancur. Orang-orang memandangnya dengan jijik, dan banyak yang tidak mau lagi datang ke kuilnya. Namun Hakuin tidak membela diri. Ia merawat bayi itu dengan penuh kasih. Ia berjalan dari rumah ke rumah meminta susu dan keperluan lain untuk si kecil, dan tetap melakukannya walau sering ditolak dengan kasar.
Setahun berlalu. Sang ibu muda tidak tahan lagi menanggung kebohongannya. Ia akhirnya mengaku kepada orang tuanya: ayah bayi itu sebenarnya seorang pemuda yang bekerja di pasar ikan. Ia menyebut nama Hakuin hanya karena takut.
Orang tua gadis itu terpukul. Dengan wajah pucat mereka bergegas ke kuil, berlutut di depan Hakuin, memohon maaf berkali-kali, dan meminta bayi itu dikembalikan.
Hakuin menyerahkan anak itu kepada mereka. Ia tidak menuntut permintaan maaf yang lebih besar dan tidak mengungkit penderitaannya. Ia hanya berkata:
“Oh, benarkah begitu?”
Kisah ini bukan ajakan untuk membiarkan ketidakadilan. Kisah ini menunjukkan hati yang tidak diombang-ambingkan oleh pujian maupun hinaan. Ketika difitnah, Hakuin tidak hancur. Ketika dibersihkan namanya, ia tidak berbangga. Yang ia pikirkan hanya satu hal yang nyata di depannya: seorang bayi yang membutuhkan perawatan.
💖 Pesan Moral
- Ketenangan batin tidak bergantung pada pendapat orang lain. Nama baik bisa naik turun, tetapi hati kita tidak harus ikut naik turun.
- Lakukan kebaikan yang dibutuhkan saat ini, walau tidak ada yang melihat atau berterima kasih.
- Kebenaran sering datang terlambat. Kesabaran menjaga kita tetap utuh selama menunggunya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot tentang guru Zen Hakuin Ekaku (1686–1769), yang dikenal luas lewat kumpulan 101 Zen Stories susunan Nyogen Senzaki dan Paul Reps.