Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Juragan dari Sebatang Jerami

3 menit baca

Kuil Hase-dera di Nara, tempat berdoa yang sering dikaitkan dengan kisah Warashibe Choja. Gambar: 663highland · CC BY 2.5 · sumber

Di Kyoto pada zaman dahulu, ada seorang pemuda yang tidak punya keluarga, tidak punya tuan, dan tidak punya uang. Karena tak tahu lagi harus ke mana, ia pergi ke kuil Hase dan berlutut di hadapan Kannon, dewi welas asih, seraya bertekad tidak akan beranjak sampai mendapat petunjuk.

Setelah berhari-hari, ia bermimpi. Seseorang berkata kepadanya bahwa benda pertama yang tersentuh tangannya saat ia keluar dari kuil adalah rezekinya, dan ia harus menjaganya.

Pemuda itu keluar dari gerbang kuil, tersandung, dan jatuh tertelungkup. Ketika bangkit, ternyata di genggamannya hanya ada sebatang jerami. Ia nyaris membuangnya, tetapi mimpinya terlalu jelas. Ia pun berjalan sambil memegang jerami itu.

Seekor lalat besar berdengung mengelilingi wajahnya. Ia menangkapnya, mengikatnya di ujung jerami, dan terus berjalan dengan lalat itu berputar-putar seperti mainan.

Sebuah kereta bangsawan lewat. Dari balik tirai, seorang anak kecil merengek menginginkan mainan aneh itu. Pengasuhnya meminta dengan sopan, dan pemuda itu memberikannya. Sebagai ganti, ia menerima tiga butir jeruk harum.

Tak lama kemudian ia bertemu rombongan yang kebingungan. Seorang perempuan pingsan kehausan di jalan, dan tidak ada air di dekat situ. Pemuda itu menyerahkan ketiga jeruknya. Perempuan itu siuman, dan sebagai tanda terima kasih rombongan itu memberinya tiga gulung kain halus.

Kini ia punya kain, sesuatu yang bernilai. Keesokan harinya ia melihat seekor kuda bagus tiba-tiba rebah di jalan. Pemiliknya meratap, lalu bergegas pergi karena tak bisa berbuat apa-apa, dan pelayannya ditinggal menjaga bangkai itu. Pemuda itu menawarkan segulung kain untuk kuda yang sudah tak berguna itu. Si pelayan menerimanya dengan heran.

Pemuda itu berdoa kepada Kannon sambil menghadap ke arah kuil Hase. Kuda itu bergerak, membuka mata, lalu berdiri. Ia membasuhnya, memberinya makan, dan membawanya ke pinggir ibu kota.

Di sana sebuah keluarga sedang sibuk bersiap untuk perjalanan jauh dan sangat memerlukan kuda. Pemilik rumah tidak punya uang tunai, jadi ia menawarkan sawah miliknya. Lebih dari itu, ia berkata:

“Tinggallah di rumahku selama aku pergi. Jika aku tidak pulang, semuanya menjadi milikmu.”

Pemilik rumah itu tak pernah kembali. Pemuda yang dulu berlutut tanpa sepeser pun itu kini mengolah sawah dan mengurus rumah besar. Ia hidup makmur, dan orang-orang menjulukinya Warashibe Choja, Juragan Sebatang Jerami.

💖 Pesan Moral

  • Mulailah dari apa yang ada di tangan. Pemuda itu tidak menunggu modal yang pantas. Ia berjalan dengan sebatang jerami.
  • Setiap pertukaran dalam kisah ini lahir dari menolong. Ia memberikan jeruknya kepada orang kehausan tanpa menghitung untungnya.
  • Yang tak berharga bagi satu orang bisa sangat berguna bagi yang lain. Nilai suatu barang bergantung pada siapa yang memerlukannya.
  • Peluang sering tampak seperti hal sepele. Jerami itu mudah dibuang, dan di situlah banyak orang berhenti.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah dalam Konjaku Monogatari (Jepang, sekitar abad ke-12), yang kemudian dikenal luas sebagai cerita rakyat Warashibe Choja.