Raja Kera yang Menjadi Jembatan
Kisah raja kera yang menjadi jembatan terpahat pada medali batu dari Stupa Bharhut, India. Gambar: Ken Kawasaki · CC BY-SA 3.0 · sumber
Di lereng Himalaya, di tepi Sungai Gangga, tumbuh sebatang pohon mangga yang rimbun seperti puncak bukit. Buahnya besar dan harum. Delapan puluh ribu kera hidup dari pohon itu, dipimpin seekor raja kera yang kuat dan panjang pikirannya.
Satu hal selalu mengganggu sang raja kera: ada dahan yang menjulur ke atas sungai. Kalau sebutir mangga jatuh ke air dan hanyut sampai ke negeri manusia, cepat atau lambat manusia akan datang mencari pohonnya. Maka ia menyuruh kawanannya membersihkan dahan itu sejak bunganya mulai berputik.
Namun sebutir buah luput dari delapan puluh ribu pasang mata, tersembunyi di balik sarang semut. Ketika matang, buah itu jatuh, hanyut, lalu tersangkut di jaring yang dipasang di sungai tempat Raja Benares sedang mandi bersenang-senang.
Tak seorang pun di rombongan raja mengenalnya, sampai para penjaga hutan mengatakan bahwa itu mangga. Raja mencicipinya dan langsung terpikat. Ia memerintahkan rakit-rakit disiapkan, lalu berlayar ke hulu hingga menemukan pohon itu.
Malam harinya, kawanan kera datang seperti biasa untuk makan. Raja terbangun, melihat mereka, dan memanggil para pemanah.
“Kepung pohon ini. Jangan biarkan seekor pun lolos. Besok pagi kita makan mangga dengan daging kera.”
Kera-kera itu gemetar melihat anak panah terarah ke segala penjuru. Mereka berkumpul di sekeliling pemimpinnya.
“Jangan takut,” kata raja kera. “Kalian akan selamat.”
Ia memanjat dahan yang menghadap sungai, lalu melompat sejauh seratus busur dan mendarat di semak seberang. Di sana ia memotong sebatang bambu panjang, memperkirakan jarak yang harus dibentangkan, lalu mengikat satu ujungnya ke pohon di tepi seberang dan ujung lainnya ke pinggangnya. Ia lupa memperhitungkan bagian yang melilit tubuhnya sendiri.
Ia melompat kembali secepat awan disapu angin, tetapi tubuhnya tertahan sedikit sebelum sampai. Dengan kedua tangan ia menangkap ujung dahan dan bergantung di sana, tubuhnya terentang di antara pohon dan bambu.
“Cepat! Injak punggungku, seberangi bambu ini!”
Satu per satu, delapan puluh ribu kera berlari di atas punggungnya sampai ke seberang. Di antara mereka ada seekor kera yang sudah lama menyimpan dendam. Ia sengaja melompat keras-keras ke punggung sang pemimpin, lalu pergi. Sesuatu di dada raja kera itu remuk, dan ia ditinggalkan sendirian dalam kesakitan.
Raja Benares tidak tidur malam itu. Dari bawah pohon ia menyaksikan semuanya. Saat fajar, perintah memanah tidak pernah keluar dari mulutnya. Ia menyuruh orang menurunkan raja kera dengan hati-hati, membasuhnya dengan air Gangga, meminuminya air gula, dan membaringkannya di tempat yang layak. Lalu ia duduk di dekatnya.
“Kau menjadikan tubuhmu jembatan bagi mereka,” kata sang raja. “Siapakah kau bagi mereka, dan siapakah mereka bagimu?”
“Aku pemimpin mereka, Tuanku. Mereka ketakutan, dan aku bertanggung jawab atas mereka. Sekarang mereka selamat, jadi aku tidak takut mati. Kalau Tuanku ingin memerintah dengan benar, jadikanlah kesejahteraan rakyat dan negeri sebagai kebahagiaan Tuanku sendiri.”
Setelah itu ia mengembuskan napas terakhir. Raja memakamkannya dengan upacara kerajaan, mendirikan tugu untuknya, dan sejak itu berusaha memerintah negerinya dengan adil.
💖 Pesan Moral
- Kedudukan datang bersama beban. Pemimpin yang sejati menanggung risiko lebih dulu, sebelum orang-orang yang dipimpinnya.
- Keteladanan bisa mengubah lawan. Raja yang datang demi selera berubah pikiran karena melihat satu perbuatan, tanpa perlu diceramahi.
- Bahaya kecil patut dicegah sejak awal. Sebutir buah yang luput dari pengawasan bisa membawa petaka bagi seluruh kawanan.
- Kebaikan tidak selalu dibalas baik oleh semua orang. Sang raja kera tetap menyelesaikan tugasnya, sekalipun ada yang mengkhianatinya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Mahakapi Jataka (Jataka no. 407), kumpulan kisah kelahiran lampau Buddha dalam tradisi Buddhis. Kisah ini juga terpahat pada relief Stupa Bharhut di India.