Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Burung Puyuh yang Mengangkat Jaring

3 menit baca

"Puyuh di Bawah Bunga Musim Gugur", lukisan Tosa Mitsuoki (abad ke-17). Gambar: Tosa Mitsuoki · CC0 · sumber

Di sebuah padang rumput yang luas, hiduplah ribuan ekor burung puyuh. Mereka dipimpin oleh seekor puyuh yang bijaksana. Setiap pagi mereka mencari biji-bijian bersama, dan setiap sore mereka kembali ke semak-semak tempat mereka bersarang.

Namun padang itu juga didatangi seorang pemburu burung. Ia pandai menirukan suara puyuh. Ketika burung-burung itu berkumpul karena mendengar panggilannya, ia melemparkan jaring ke atas mereka, lalu mengumpulkan ujung-ujung jaring itu dan membawa pulang tangkapannya untuk dijual. Hari demi hari, jumlah puyuh semakin berkurang.

Pemimpin puyuh memanggil seluruh kawanan. “Saudara-saudaraku, aku punya cara untuk menyelamatkan kita. Jika pemburu itu melemparkan jaring, setiap dari kita harus memasukkan kepala ke salah satu lubang jaring. Lalu kita terbang bersama-sama, pada saat yang sama, ke arah yang sama. Kita bawa jaring itu terbang dan jatuhkan di atas semak berduri. Setelah itu kita keluar dari bawahnya.”

Semua puyuh setuju. Esok harinya, ketika jaring dilemparkan, mereka melakukan persis seperti yang diajarkan. Ribuan sayap mengepak bersamaan, dan jaring itu terangkat ke udara. Mereka menjatuhkannya di atas rumpun semak berduri dan meloloskan diri dengan selamat.

Pemburu itu tercengang. Ia butuh waktu lama untuk melepaskan jaringnya dari duri-duri, lalu pulang dengan tangan kosong. Hal yang sama terjadi keesokan harinya, dan keesokan harinya lagi. Istrinya mulai mengomel karena tidak ada lagi yang bisa dijual.

“Sabarlah,” kata si pemburu. “Selama mereka kompak, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi tunggu saja. Suatu hari mereka akan bertengkar.”

Tak lama kemudian, ketika sedang mencari makan, seekor puyuh tanpa sengaja menginjak kepala puyuh lain. “Hei! Siapa yang menginjak kepalaku?” bentak yang terinjak. “Aku tidak sengaja, jangan marah,” jawab yang lain. Tetapi yang terinjak terus menggerutu, dan pertengkaran kecil itu menjalar ke mana-mana.

“Kau pikir kau saja yang mengangkat jaring itu?” ejek yang satu. “Selama ini aku yang paling kuat mengangkat!” balas yang lain. “Kalau begitu, besok angkat saja sendiri!”

Pemimpin puyuh mendengar semua itu dan berkata kepada mereka yang masih mau mendengarkan, “Pertengkaran adalah awal kehancuran. Mari kita pergi dari tempat ini.” Sebagian kawanan mengikutinya pindah ke padang yang lain.

Beberapa hari kemudian, pemburu datang lagi dan melemparkan jaringnya. Puyuh-puyuh yang tersisa masih sibuk saling menyalahkan. “Ayo, angkat!” “Kau saja yang angkat, kau kan paling kuat!” Tidak ada yang terbang. Pemburu itu tersenyum, mengumpulkan ujung jaringnya, dan pulang dengan tangkapan penuh.

💖 Pesan Moral

  • Bersatu kita kuat, bercerai kita lemah. Masalah besar bisa diangkat bersama-sama.
  • Pertengkaran kecil yang dibiarkan dapat meruntuhkan kerja sama yang sudah terbukti berhasil.
  • Dalam tim, berhentilah menghitung siapa yang paling berjasa; yang penting jaringnya terangkat.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Sammodamana Jataka (Jataka no. 33), salah satu kisah kelahiran lampau Sang Buddha dalam tradisi Buddhis.