Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Keledai Pembawa Garam

3 menit baca

Keledai yang mengira sungai akan meringankan bebannya. Ilustrasi J. J. Grandville (1838). Gambar: J. J. Grandville · Public domain · sumber

Seorang pedagang garam memiliki seekor keledai. Setiap minggu, ia membawa keledai itu ke pantai untuk membeli garam dari para petambak, lalu membawanya pulang untuk dijual di pasar kota.

Perjalanan pulang selalu berat. Karung-karung garam diikat di punggung keledai, dan jalan yang harus dilalui menanjak, berbatu, lalu menyeberangi sebuah sungai kecil yang arusnya cukup deras.

Suatu hari, ketika sedang menyeberangi sungai itu, kaki keledai tergelincir di batu yang licin. Ia jatuh terduduk, dan karung-karung garam di punggungnya terendam air.

Pedagang itu panik dan buru-buru menarik keledainya berdiri. Namun begitu keledai bangkit, ia merasakan sesuatu yang aneh. Bebannya jauh lebih ringan! Air sungai telah melarutkan sebagian besar garam di dalam karung.

Pedagang itu mengeluh panjang karena kehilangan dagangannya. Tetapi si keledai melangkah ringan sepanjang sisa perjalanan, dan dalam kepalanya mulai tumbuh sebuah rencana.

Minggu berikutnya, mereka kembali ke pantai. Karung garam kembali dimuat. Ketika sampai di tengah sungai, keledai itu dengan sengaja menjatuhkan diri ke dalam air. Benar saja, saat ia berdiri, bebannya kembali ringan.

“Hebat sekali aku,” pikir keledai itu dengan bangga. “Mulai sekarang, aku tidak perlu lagi memikul beban berat.”

Namun pedagang itu tidak bodoh. Setelah kejadian yang sama terulang dua kali, ia memperhatikan bahwa keledainya selalu jatuh di tempat yang sama, dan selalu dengan cara yang terlalu mulus untuk sebuah kecelakaan.

“Rupanya kamu sedang mengakaliku,” gumamnya. “Baiklah, kita lihat siapa yang lebih pintar.”

Minggu berikutnya, pedagang itu tidak membeli garam. Ia membeli spons laut, yang ringan ketika kering tetapi menyerap air dalam jumlah besar. Ia memuatkannya ke punggung keledai, dan mereka berangkat seperti biasa.

Sampai di tengah sungai, keledai itu kembali menjatuhkan diri dengan penuh percaya diri. Ia menunggu sebentar, membiarkan muatannya terendam, lalu berdiri.

Tetapi kali ini, ia hampir tidak bisa bangkit. Spons-spons itu telah menyerap air sungai dan menjadi berat bukan main. Keledai itu terhuyung-huyung keluar dari sungai, kakinya gemetar, dan ia harus memikul beban dua kali lipat sepanjang jalan menanjak menuju kota.

Sejak hari itu, keledai tidak pernah lagi mencoba menjatuhkan diri di sungai.

💖 Pesan Moral

  • Cara yang berhasil sekali belum tentu berhasil selamanya. Keadaan bisa berubah, dan kita perlu berpikir ulang.
  • Akal-akalan untuk menghindari tanggung jawab pada akhirnya sering membuat beban kita lebih berat.
  • Kerja jujur memang terasa berat, tetapi lebih ringan daripada menanggung akibat dari kecurangan.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Keledai Pembawa Garam”, yang juga digubah oleh Jean de La Fontaine dalam “L’Âne chargé d’éponges et l’Âne chargé de sel”.