Sundiata, Anak yang Tak Bisa Berjalan
Pohon baobab di Mali. Daunnya menjadi pemicu hari ketika Sundiata akhirnya berdiri. Gambar: NOAA. This image is a work of the National Oceanic and Atmospheric Administration, taken or made during the course of an employee's official duties. As works of the U.S. federal government, all NOAA i · Public domain · sumber
Sebuah ramalan pernah sampai ke telinga raja Manden: kelak ia akan mengambil seorang perempuan buruk rupa sebagai istri, dan dari rahimnya akan lahir penguasa besar. Perempuan itu datang juga, dibawa oleh dua pemburu. Namanya Sogolon. Punggungnya bungkuk, dan orang-orang menertawakannya. Raja tetap menikahinya, dan lahirlah seorang putra yang diberi nama Sundiata.
Harapan istana segera berubah menjadi bisik-bisik. Anak itu tidak bisa berjalan.
Tahun demi tahun berlalu, dan anak-anak seusianya sudah berlarian, sementara Sundiata masih merangkak di tanah. Ia jarang bicara dan lebih sering diam. Ibu suri pertama, Sassouma Bérété, yang menginginkan takhta bagi putranya sendiri, tak menyembunyikan rasa puasnya. Ketika raja wafat, putra Sassouma-lah yang naik takhta, dan Sogolon bersama anaknya disingkirkan ke sudut halaman belakang.
Suatu hari Sogolon kehabisan daun baobab untuk memasak. Dengan menahan malu, ia pergi meminta sedikit kepada Sassouma. Perempuan itu menyodorkan sesendok daun sambil mencibir.
“Ambillah. Anakku sudah bisa memetik sendiri sejak kecil. Dia yang membawakannya untuk ibunya. Anakmu? Dia masih merangkak.”
Sogolon pulang sambil menangis. Ia memukul anaknya dengan sepotong kayu, sesuatu yang belum pernah ia lakukan, lalu duduk meratapi nasib. Sundiata memandangi ibunya lama sekali. Lalu ia membuka mulut.
“Jangan menangis, Ibu. Hari ini aku akan berjalan.”
Ia memanggil Balla Fasséké, griot atau juru tutur yang setia kepada keluarganya, dan menyuruhnya pergi ke para pandai besi.
“Katakan kepada mereka, buatkan aku batang besi yang paling berat.”
Dibutuhkan beberapa orang untuk menyeret batang besi itu ke halaman. Orang-orang berkumpul, sebagian karena kasihan, sebagian karena ingin melihat tontonan. Sundiata meraih batang besi itu dan bertumpu padanya. Keringat mengalir di wajahnya. Tubuhnya bergetar, lututnya perlahan terangkat dari tanah. Dalam kesunyian yang mencekam, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia berdiri.
Batang besi itu melengkung di tangannya seperti busur. Balla Fasséké mulai bernyanyi, dan Sogolon jatuh berlutut sambil menangis lagi, kali ini karena bahagia.
Sundiata melangkah ke pohon baobab muda di dekat situ, memeluk batangnya, dan mencabutnya beserta akarnya. Ia memanggulnya pulang dan menanamnya di depan pintu rumah ibunya.
“Ibu, inilah daun baobabmu. Mulai sekarang, perempuan-perempuan Niani yang akan datang kepadamu.”
Perjalanan anak itu baru dimulai. Kelak ia harus mengungsi jauh bersama ibunya untuk menghindari kebencian saudara tirinya, lalu pulang sebagai pemimpin yang mengalahkan raja penyihir Soumaoro dan mendirikan Kekaisaran Mali pada abad ke-13. Para griot Manden masih menyanyikan namanya sampai hari ini.
💖 Pesan Moral
- Keterlambatan bukan vonis. Setiap orang punya waktunya sendiri, dan yang lambat di awal tidak berarti tertinggal selamanya.
- Penghinaan bisa menjadi bahan bakar bila dijawab dengan tindakan, bukan dengan balasan hinaan.
- Di balik orang kuat sering ada orang yang setia. Sogolon dan Balla Fasséké percaya ketika belum ada apa pun yang bisa dilihat.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Epos Sundiata, tradisi lisan para griot Manden, Mali. Rincian masa kecil Sundiata berbeda antarversi dan tidak tercatat dalam sumber sezaman.