Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Ande-Ande Lumut dan Klenting Kuning

2 menit baca

Sungai di Jawa Timur saat pagi, mengingatkan pada sungai tempat Yuyu Kangkang menunggu. Gambar: Achmad Ardiansyah · CC BY 4.0 · sumber

Di sebuah desa di Jawa, seorang janda yang dikenal sebagai Mbok Rondo Dadapan mengumumkan bahwa anak angkatnya, seorang pemuda tampan bernama Ande-Ande Lumut, sedang mencari calon istri. Kabar itu menyebar cepat, dan gadis-gadis dari berbagai desa berdatangan.

Tidak ada yang tahu bahwa Ande-Ande Lumut sebenarnya adalah Panji Asmarabangun, pangeran Kerajaan Jenggala yang sedang menyamar. Ia mencari istrinya, Dewi Sekartaji, yang telah lama menghilang dari istana.

Di desa lain, tinggal seorang janda yang disebut Mbok Rondo Klenting bersama tiga anak perempuannya: Klenting Merah, Klenting Biru, dan Klenting Hijau. Ada pula seorang gadis lagi yang tinggal bersama mereka, Klenting Kuning. Ia selalu disuruh mengerjakan pekerjaan rumah dan berpakaian sederhana. Padahal, Klenting Kuning adalah Dewi Sekartaji yang juga sedang menyamar.

Ketiga Klenting bersaudara berdandan secantik mungkin dan berangkat menuju rumah Ande-Ande Lumut. Klenting Kuning ingin ikut, tetapi ia ditinggal dan disuruh mencuci. Dengan sedih ia mengerjakan tugasnya, lalu menyusul sambil membawa sebatang sapu lidi pemberian seekor burung bangau yang iba padanya.

Di tengah perjalanan, mereka harus menyeberangi sungai besar. Di sana ada seekor kepiting raksasa bernama Yuyu Kangkang yang menawarkan jasa menyeberangkan, dengan syarat setiap gadis harus memberinya ciuman. Ketiga Klenting bersaudara menyetujuinya tanpa pikir panjang.

Ketika Klenting Kuning tiba, Yuyu Kangkang mengajukan syarat yang sama. Klenting Kuning menolak. Yuyu Kangkang marah dan mengancam, tetapi Klenting Kuning memukulkan sapu lidinya ke air. Sungai pun menyurut, dan Yuyu Kangkang ketakutan lalu menyeberangkannya tanpa syarat apa pun.

Di rumah Mbok Rondo Dadapan, Ande-Ande Lumut menolak ketiga Klenting bersaudara. “Mereka sudah dicium Yuyu Kangkang,” katanya lewat ibu angkatnya. Ketika Klenting Kuning datang dengan baju lusuh dan bau lumpur, ketiga kakaknya menertawakannya.

Namun Ande-Ande Lumut justru turun dan menerima Klenting Kuning. Di hadapan semua orang, keduanya membuka penyamaran mereka. Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji akhirnya bertemu kembali.

Kisah ini sering ditembangkan dalam bahasa Jawa dengan lirik yang terkenal, “Putra kula Ande-Ande Lumut, tumuruna, ana putri kang unggah-unggahi.” Pesannya sederhana namun dalam: kemuliaan tidak terletak pada pakaian, melainkan pada cara seseorang menjaga kehormatan dirinya.

💖 Pesan Moral

  • Jagalah kehormatan diri, jangan menukarnya dengan jalan pintas.
  • Penampilan luar bisa menipu; yang sederhana bisa jadi yang paling berharga.
  • Kesabaran dan kesetiaan pada akhirnya membawa kepada yang dicari.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Jawa Timur “Ande-Ande Lumut”, bagian dari siklus cerita Panji.