Kura-Kura yang Tak Bisa Diam
Dua angsa membawa kura-kura terbang, terpahat di Candi Mendut, Jawa Tengah. Gambar: Photo Dharma from Penang, Malaysia · CC BY 2.0 · sumber
Di sebuah danau yang jernih, hiduplah seekor kura-kura yang bersahabat dengan dua ekor angsa. Ketiganya sering bercengkerama di tepi danau. Hanya ada satu kebiasaan kura-kura yang kadang membuat kedua angsa itu tersenyum: ia tidak bisa berhenti bicara. Apa pun yang terlintas di kepalanya, langsung keluar dari mulutnya.
Suatu tahun, kemarau datang sangat panjang. Air danau semakin surut, ikan-ikan mulai mati, dan lumpur di dasar danau retak-retak. Kedua angsa memutuskan untuk terbang ke danau lain di balik pegunungan yang airnya masih melimpah.
Kura-kura sedih sekali. “Kalian bisa terbang, tetapi bagaimana denganku? Aku akan mati kekeringan di sini.”
Kedua angsa berpikir keras, lalu menemukan jalan. “Kami akan membawa sebatang ranting yang kuat. Kami masing-masing menggigit ujungnya, dan kamu menggigit bagian tengahnya. Dengan begitu kami bisa membawamu terbang.”
Kura-kura melonjak gembira. Tetapi salah satu angsa menambahkan dengan serius, “Ada satu syarat. Selama kita terbang, apa pun yang terjadi, jangan membuka mulutmu. Sepatah kata pun tidak.”
“Tentu, tentu! Aku janji tidak akan bicara,” jawab kura-kura.
Maka berangkatlah mereka. Kura-kura menggigit ranting itu erat-erat, dan kedua angsa mengepakkan sayap membawa mereka tinggi ke udara. Mereka melintasi hutan, sawah, dan sungai. Kura-kura belum pernah melihat dunia dari ketinggian. Hatinya berdebar karena kagum.
Ketika mereka melintas di atas sebuah desa, anak-anak yang sedang bermain melihat ke atas dan bersorak. “Lihat! Lihat! Dua angsa membawa kura-kura! Lucu sekali!” Orang-orang dewasa ikut keluar rumah, menunjuk-nunjuk, dan tertawa.
Kura-kura mulai gelisah. Ia ingin sekali menjawab mereka. Ia ingin berkata bahwa ini adalah idenya juga, bahwa ia tidak lucu, bahwa mereka seharusnya kagum. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, makin lama makin mendesak.
Akhirnya ia tidak tahan. “Apa urusan kalian, hai orang-orang usil?”
Begitu mulutnya terbuka, ranting itu terlepas. Kura-kura meluncur jatuh dari langit, dan kedua angsa hanya bisa memandang sahabatnya dengan pilu. Mereka sudah berusaha menolongnya, tetapi tidak bisa menolong mulut yang tidak mau dijaga.
Dalam versi Jataka, kisah ini diceritakan oleh seorang penasihat bijak kepada rajanya yang terlalu banyak bicara. Sang raja mendengarkan, merenung, dan sejak saat itu belajar untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara.
💖 Pesan Moral
- Tahu kapan harus diam adalah kebijaksanaan. Tidak setiap ejekan perlu dijawab.
- Gengsi dan keinginan untuk selalu membalas bisa membuat kita kehilangan hal yang jauh lebih berharga.
- Bantuan teman akan sia-sia bila kita sendiri tidak mau menjaga janji.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Kacchapa Jataka (Jataka no. 215) dan fabel serupa dalam Buku Pertama Panchatantra. Adegan kura-kura dibawa terbang dua angsa juga terpahat pada relief Candi Mendut, Jawa Tengah.