Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Jayaprana dan Layonsari

3 menit baca

Pesisir Taman Nasional Bali Barat, kawasan yang menyimpan makam Jayaprana di Teluk Terima. Gambar: F. H. Panggabean · CC BY-SA 4.0 · sumber

Wabah pernah melanda Desa Kalianget di Buleleng, Bali Utara, dan hampir semua warganya meninggal. Satu keluarga habis tak bersisa kecuali seorang anak laki-laki bernama Jayaprana. Sebatang kara, ia mendatangi puri dan memohon boleh mengabdi. Sang raja kasihan, lalu menerimanya.

Anak yatim piatu itu tumbuh menjadi abdi yang rajin dan pemuda yang tampan. Ia disukai semua orang di puri, dan raja menyayanginya seperti anak sendiri. Ketika Jayaprana dewasa, raja menyuruhnya memilih seorang gadis untuk dinikahi.

Jayaprana berjalan ke pasar, dan di sana matanya bertemu dengan Ni Layonsari, putri seorang warga dari Banjar Sekar. Keduanya saling terpikat. Sang raja sendiri menulis surat untuk melamarkan, dan pernikahan itu berlangsung meriah.

Namun saat pasangan baru itu menghadap ke puri, raja melihat Layonsari untuk pertama kalinya. Sejak saat itu hatinya tak tenang. Orang yang selama ini ia sayangi tiba-tiba terlihat sebagai penghalang.

Ia memanggil Patih Saunggaling dan membuat rencana keji. Jayaprana diperintahkan pergi ke Teluk Terima di barat Bali dengan alasan mengusir perompak. Tugas itu baru diberikan beberapa hari setelah pernikahan. Layonsari bermimpi buruk dan memohon suaminya tidak pergi, tetapi Jayaprana seorang abdi yang setia. Perintah raja baginya tak bisa ditawar.

“Aku akan kembali,” katanya, sambil menenangkan istrinya.

Di Teluk Terima, Patih Saunggaling menyerahkan surat dari raja. Jayaprana membacanya. Di situ tertulis bahwa ia harus dibunuh. Ia terdiam lama. Kemudian ia berkata bahwa ia tidak akan melawan. Raja telah memeliharanya sejak kecil, dan hidupnya memang berasal dari kemurahan hati itu. Maka ia menyerahkan diri. Saat ia gugur, bau harum menyebar dan alam seakan berduka. Bahkan sang patih menangis.

Berita kematian Jayaprana dibawa pulang dengan cerita palsu bahwa ia gugur melawan perompak. Raja lalu mendatangi Layonsari dan membujuknya menjadi permaisuri. Layonsari sudah tahu apa yang terjadi. Semua harta dan bujukan tidak berarti apa-apa baginya. Ia menolak, lalu mengakhiri hidupnya sendiri, memilih setia kepada suaminya.

Raja kehilangan akal dan seluruh negeri jatuh ke dalam kekacauan. Kesenangan yang ia kejar tak pernah ia peroleh.

Sampai hari ini, makam Jayaprana berada di bukit di Teluk Terima, di tepi Taman Nasional Bali Barat. Orang datang menaiki anak tangganya untuk berdoa dan mengenang sepasang kekasih yang setia sampai akhir.

💖 Pesan Moral

  • Kekuasaan tanpa kendali diri merusak segalanya. Raja yang penyayang berubah menjadi pembunuh karena satu keinginan.
  • Kepercayaan adalah hal yang paling keji untuk dikhianati. Jayaprana dicelakai oleh orang yang paling ia hormati.
  • Harta tidak bisa membeli kesetiaan. Layonsari menunjukkan ada hal yang tak bisa ditawar oleh takhta.
  • Rencana jahat memakan pembuatnya. Raja akhirnya kehilangan orang kepercayaan dan ketenangannya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda Jayaprana dan Layonsari, Buleleng, Bali; salah satu versi. Rincian kisah dan gelar sang raja berbeda-beda dalam berbagai penuturan.