Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Menggambar Ular dan Menambahkan Kaki (画蛇添足)

3 menit baca

Seekor ular dalam lukisan layar klasik, utuh tanpa kaki, persis seperti yang seharusnya digambar si pelayan. Gambar: Pelukis Jepang tak dikenal · Public domain · sumber

Di negeri Chu, seorang bangsawan baru saja selesai melakukan upacara persembahan kepada leluhurnya. Sesuai kebiasaan, ia membagikan sisa arak persembahan kepada para pelayannya. Sayangnya, araknya hanya satu kendi.

Para pelayan pun berunding. “Arak satu kendi ini kalau diminum beramai-ramai, masing-masing hanya kebagian seteguk. Tidak terasa apa-apa. Tapi kalau diminum satu orang, pasti puas sekali.”

Seseorang mengusulkan sebuah lomba. “Bagaimana kalau kita masing-masing menggambar seekor ular di tanah? Siapa yang paling cepat selesai, dialah yang berhak atas seluruh arak ini.”

Semua setuju. Mereka mengambil ranting, berjongkok, dan mulai menggambar ular di atas tanah.

Salah seorang pelayan bekerja sangat cepat. Dalam sekejap gambar ularnya sudah jadi: kepala, badan yang meliuk, dan ekor. Ia melirik ke kiri dan ke kanan. Teman-temannya masih sibuk, baru setengah jalan.

Dengan penuh percaya diri, ia mengambil kendi arak dengan tangan kiri. Lalu, karena merasa masih punya banyak waktu, ia berkata sambil tertawa, “Lihat, aku bahkan masih sempat menambahkan kaki pada ularku!” Tangan kanannya kembali menggores tanah, menambahkan kaki-kaki kecil di bawah badan ular itu.

Belum selesai ia menggambar kaki-kaki itu, seorang pelayan lain berdiri. “Aku sudah selesai!” serunya, lalu merebut kendi arak dari tangan si pelayan pertama.

“Hei, aku yang lebih dulu selesai!” protes si pelayan pertama.

Pelayan kedua tersenyum. “Sejak kapan ular punya kaki? Yang kau gambar itu bukan ular lagi. Jadi akulah yang pertama menggambar ular.” Lalu ia meneguk arak itu sampai habis.

Si pelayan pertama hanya bisa terdiam menatap gambarnya. Kemenangan yang sudah di tangan lepas karena ia ingin pamer melakukan sesuatu yang sama sekali tidak diperlukan.

Kisah ini aslinya disampaikan oleh seorang penasihat bernama Chen Zhen kepada Jenderal Zhao Yang dari Chu, yang sudah memenangkan banyak pertempuran dan berniat menyerang negeri Qi pula. Chen Zhen mengingatkan: jabatan sang jenderal sudah setinggi mungkin, menambah kemenangan tidak akan menaikkan pangkatnya, tetapi satu kekalahan bisa menghapus semuanya. Itu sama saja dengan menggambar kaki pada ular.

Dari sinilah lahir peribahasa 画蛇添足 (huà shé tiān zú), “menggambar ular lalu menambahkan kaki”. Artinya, melakukan hal berlebihan yang tidak perlu, sehingga justru merusak apa yang sudah baik.

💖 Pesan Moral

  • Tahu kapan berhenti adalah sebuah kebijaksanaan. Sesuatu yang sudah cukup tidak perlu ditambah-tambah.
  • Kesombongan kecil bisa membatalkan kemenangan besar.
  • Lebih banyak tidak selalu lebih baik. Tambahan yang tidak perlu bisa mengubah makna dan merusak hasil.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Zhan Guo Ce (Siasat Negara-Negara Berperang), bagian “Qi Ce”, kumpulan kisah yang disusun oleh Liu Xiang pada abad ke-1 SM, asal-usul peribahasa 画蛇添足.