Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Angsa yang Bertelur Emas

2 menit baca

Petani mengagumi telur emas dari angsanya. Ilustrasi Milo Winter dalam The Aesop for Children (1919). Gambar: Milo Winter · Public domain · sumber

Di sebuah desa kecil, hiduplah sepasang suami istri petani yang miskin. Mereka bekerja keras setiap hari, tetapi hasilnya hanya cukup untuk makan seadanya. Harta mereka hanyalah sebuah gubuk, sepetak kebun, dan seekor angsa putih.

Suatu pagi, sang petani pergi ke kandang untuk mengambil telur. Ia terkejut bukan main. Di dalam sarang angsa, tergeletak sebutir telur yang berkilau kuning keemasan. Ia mengangkatnya. Telur itu berat sekali.

“Istriku! Lihat ini!” serunya sambil berlari ke dalam rumah.

Mereka membawa telur itu ke tukang emas di kota. Tukang emas memeriksanya dengan teliti, lalu berkata, “Ini emas murni.” Mereka pulang membawa uang yang belum pernah mereka pegang seumur hidup.

Keesokan paginya, angsa itu bertelur emas lagi. Begitu pula hari berikutnya, dan hari berikutnya lagi. Setiap hari, satu butir telur emas.

Perlahan-lahan hidup mereka berubah. Gubuk diganti rumah yang kokoh. Mereka membeli pakaian bagus, sapi, dan ladang yang luas. Para tetangga mulai iri melihat kemakmuran mereka.

Namun bersamaan dengan bertambahnya harta, tumbuh pula sesuatu yang lain di hati mereka: rasa tidak sabar.

“Satu telur sehari terlalu lambat,” keluh sang istri suatu malam. “Kalau begini terus, kapan kita bisa menjadi orang terkaya di negeri ini?”

Sang petani berpikir. “Angsa itu bisa bertelur emas setiap hari. Pasti di dalam perutnya ada gumpalan emas yang sangat besar.”

Mata sang istri berbinar. “Kalau begitu, kenapa kita tidak mengambil semuanya sekaligus? Kita tidak perlu menunggu lagi!”

Malam itu juga, mereka menangkap angsa itu. Angsa itu mengepakkan sayapnya ketakutan, tetapi mereka tidak peduli. Dengan pisau dapur, mereka membelah perutnya, lalu mencari-cari dengan tangan gemetar karena tidak sabar.

Tetapi tidak ada emas di sana. Tidak sebutir pun. Di dalamnya hanya ada isi perut angsa biasa, sama seperti angsa-angsa lainnya.

Mereka terduduk lemas di lantai dapur. Angsa yang telah memberi mereka segalanya kini terbaring mati. Tidak akan ada lagi telur emas esok pagi, lusa, atau kapan pun.

Sang petani menutup wajahnya. “Kita punya segalanya,” bisiknya, “tetapi kita menginginkan semuanya sekaligus, dan sekarang kita kehilangan semuanya.”

💖 Pesan Moral

  • Keserakahan bisa menghancurkan sumber berkat kita sendiri.
  • Bersyukurlah atas apa yang datang sedikit demi sedikit. Rezeki yang mengalir terus-menerus lebih berharga daripada keuntungan besar sesaat.
  • Rawatlah “angsa” dalam hidupmu: kesehatan, keluarga, pekerjaan, dan hubungan baik yang menjadi sumber kebaikan setiap hari.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Angsa yang Bertelur Emas”, yang juga digubah oleh Jean de La Fontaine dalam “La Poule aux œufs d’or”.