Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Bujang Sembilan dan Danau Maninjau

3 menit baca

Danau Maninjau di Agam, Sumatra Barat, yang dalam legenda terbentuk dari kawah Gunung Tinjau. Gambar: Chapsorini · CC BY-SA 4.0 · sumber

Di kaki Gunung Tinjau yang subur, sepuluh bersaudara yatim piatu tumbuh di bawah asuhan paman mereka, Datuk Limbatang. Sembilan laki-laki, satu perempuan. Orang sekampung menyebut para lelaki itu Bujang Sembilan. Si bungsu bernama Sani, gadis lembut yang menjadi kesayangan semua orang.

Datuk Limbatang sering berkunjung untuk mengajari mereka bercocok tanam, dan ia kerap mengajak putranya, Giran. Pemuda itu ramah dan rendah hati. Lama-kelamaan, kunjungannya tidak lagi hanya karena ajakan ayahnya. Sani pun mulai menunggu-nunggu kedatangannya. Tanpa diketahui siapa pun, keduanya saling jatuh cinta.

Suatu ketika kampung itu mengadakan gelanggang silat. Semua pemuda turun, termasuk Giran dan Bujang Sembilan. Satu demi satu lawan tumbang, dan di babak akhir berdirilah dua orang: Giran dan Kukuban, si sulung dari Bujang Sembilan.

Pertarungan itu tidak berlangsung lama. Giran menang di hadapan orang sekampung. Ia mengulurkan tangan dengan sopan, tetapi Kukuban hanya menatapnya dengan muka merah. Sejak hari itu, ada sesuatu yang mengeras di dalam hatinya.

Maka ketika Giran datang ke rumah mereka untuk meminang Sani dengan cara yang baik, jawaban Kukuban sudah siap.

“Tidak,” katanya lantang. “Selama aku hidup, tidak.”

Tidak ada alasan lain yang ia berikan. Saudara-saudaranya mengikuti. Sani menunduk, dan Giran pulang tanpa berkata apa-apa.

Esoknya, Giran mengajak Sani bertemu di ladang untuk membicarakan jalan keluar. Mereka hanya berbincang. Namun ada mata yang melihat, dan kabar di kampung kecil berjalan lebih cepat dari kaki. Tak lama kemudian, warga dan Bujang Sembilan datang mengepung mereka. Keduanya dituduh melanggar adat. Giran dan Sani berusaha menjelaskan, tetapi tidak ada yang mau mendengar.

Keputusan dijatuhkan: mereka harus dihukum di kawah Gunung Tinjau. Keduanya diarak naik ke bibir kawah, diiringi orang sekampung, dengan asap panas mengepul di depan mereka.

Giran menggenggam tangan Sani, lalu menengadah dan berdoa dengan suara yang terdengar oleh semua orang.

“Ya Tuhan, jika kami memang bersalah, hancurkanlah tubuh kami di dalam kawah ini. Tetapi jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini, dan biarlah kebenaran terlihat.”

Mereka melompat bersama.

Beberapa saat tidak terjadi apa-apa. Lalu tanah bergetar. Gunung Tinjau meletus dahsyat, memuntahkan api dan batu, dan menelan kampung beserta Bujang Sembilan. Ketika semuanya reda, puncak gunung itu telah lenyap. Di tempatnya terbentang kawah raksasa yang perlahan terisi air.

Itulah Danau Maninjau. Menurut cerita orang tua, Bujang Sembilan berubah menjadi ikan penghuni danau. Sebagian penutur juga mengaitkan nama sejumlah tempat di sekeliling danau dengan nama sembilan bersaudara tersebut.

💖 Pesan Moral

  • Jangan biarkan kekalahan berubah menjadi dendam. Kekalahan di gelanggang silat berakhir menjadi bencana bagi seluruh kampung.
  • Kabar burung bukan bukti. Dua orang dihukum hanya karena sebuah pertemuan yang dilihat dari jauh.
  • Dengarkan dulu sebelum menghakimi. Orang banyak pun bisa salah, dan suara ramai tidak dengan sendirinya berarti benar.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Minangkabau di Danau Maninjau, Sumatra Barat. Rincian kisah dan nama para bersaudara berbeda antarpenutur.