Chunhyang yang Setia
Taman Gwanghallu di Namwon, tempat Mongryong pertama kali melihat Chunhyang. Gambar: Namwon030 · CC BY-SA 3.0 · sumber
Pada hari Dano yang cerah di Namwon, Yi Mongryong, putra sang hakim daerah, naik ke paviliun Gwanghallu untuk menikmati pemandangan. Dari kejauhan ia melihat seorang gadis berayun tinggi di bawah pohon, dengan rok yang mengembang tertiup angin. Ia langsung lupa pada semua bukunya.
Gadis itu Chunhyang, putri Wolmae, mantan gisaeng, penghibur istana yang berada di lapisan bawah masyarakat Joseon. Secara adat, Chunhyang tak layak bagi seorang putra bangsawan. Namun Mongryong datang ke rumah mereka malam itu, meminta izin kepada Wolmae, dan mengikat janji sebagai suami istri, walau tanpa upacara umum.
Mereka hanya sempat berbahagia sebentar. Ayah Mongryong dipindahkan ke Seoul. Adat melarang ia membawa istri dari kalangan rendah sebelum lulus ujian negara. Di tepi jalan, keduanya berpisah sambil menangis. Mongryong menyerahkan cermin, dan Chunhyang melepas cincinnya, sebagai tanda janji untuk bertemu lagi.
Waktu berlalu, dan tak ada kabar. Lalu datanglah hakim baru ke Namwon, Byeon Hakdo. Ia rakus dan lebih suka berpesta daripada mengurus rakyat. Hal pertama yang ia tanyakan adalah para gisaeng di daerah itu, dan ia mendengar tentang Chunhyang. Ia memanggilnya menghadap.
“Layani aku malam ini,” perintahnya.
Chunhyang berlutut dan menjawab dengan jelas. “Hamba sudah bersuami. Seorang istri tak melayani dua lelaki.”
Byeon tertawa. Anak gisaeng bicara tentang kesetiaan? Ia memerintahkan agar Chunhyang dicambuk. Pukulan demi pukulan jatuh di betisnya. Pada setiap pukulan, Chunhyang menyatakan lagi kesetiaannya. Orang-orang yang melihat memalingkan muka. Ia lalu dipasung dan dijebloskan ke penjara, dengan hukuman mati ditetapkan pada hari ulang tahun sang hakim.
Sementara itu, seorang pengemis compang-camping datang ke Namwon. Wolmae, yang menyambutnya dengan harapan, langsung terduduk lemas. Itu Mongryong, tampak miskin dan tak punya apa-apa. Chunhyang dari balik jeruji malah berpesan: rawatlah menantuku baik-baik, dan kuburkan aku dengan layak.
Pada hari ulang tahun Byeon Hakdo, para pejabat berkumpul di pesta besar. Si pengemis duduk di ujung meja, lalu meminta kuas dan menulis sebait puisi: anggur di cawan emas adalah darah rakyat, hidangan di piring giok adalah lemak mereka, dan tetesan lilin adalah air mata mereka. Sebagian tamu yang mengerti wajahnya pucat dan buru-buru pamit. Byeon tak paham.
Tiba-tiba terdengar teriakan “Amhaeng-eosa chuldo!” Pasukan menyerbu halaman. Si pengemis berdiri, dan ia kini memakai lencana inspektur rahasia raja. Mongryong telah lulus ujian dengan nilai tertinggi, dan selama ini ia menyamar untuk memeriksa pejabat-pejabat yang korup.
Byeon ditangkap. Chunhyang dibawa ke hadapan inspektur itu, yang menyuruhnya mendongak. Ia memandang wajah di atas sana, dan mengenali cincin di tangannya. Tangisnya pun pecah.
💖 Pesan Moral
- Harga diri tak ditentukan oleh kelas sosial. Anak seorang gisaeng mengajari seorang hakim arti kehormatan.
- Kuasa tanpa tanggung jawab adalah penindasan. Puisi Mongryong menunjukkan siapa yang membayar pesta para pejabat.
- Keteguhan berguna ketika tak ada jaminan. Chunhyang bertahan tanpa tahu bahwa pertolongan sedang datang.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi cerita klasik Korea Chunhyangjeon (juga pansori Chunhyangga); rinciannya berbeda-beda antarnaskah, dan penulis aslinya tidak diketahui.