Burung Berkik dan Kerang yang Bertengkar (鹬蚌相争)
Burung berkik dengan paruh panjangnya. Paruh seperti inilah yang terjepit cangkang kerang di tepi Sungai Yi. Gambar: Shiv's fotografia · CC BY-SA 4.0 · sumber
Pada zaman Negara-Negara Berperang, negeri Zhao bersiap menyerang negeri Yan, tetangganya. Seorang penasihat bernama Su Dai, yang mewakili negeri Yan, bergegas menghadap Raja Hui dari Zhao. Tetapi ia tidak datang membawa ancaman atau bujukan. Ia datang membawa sebuah cerita.
“Paduka,” kata Su Dai, “dalam perjalanan ke sini, hamba menyeberangi Sungai Yi dan melihat sesuatu yang menarik.”
Lalu ia bercerita.
Di tepi sungai itu, seekor kerang besar sedang membuka cangkangnya lebar-lebar untuk berjemur di bawah matahari. Seekor burung berkik, sejenis burung air berparuh panjang, melihatnya dan langsung menukik. Paruhnya mematuk daging kerang yang lunak di dalam cangkang.
Kerang itu terkejut dan segera menutup cangkangnya rapat-rapat. Paruh burung berkik itu pun terjepit di antara dua belah cangkang.
Burung berkik itu berkata dengan paruh terjepit, “Hari ini tidak hujan, besok tidak hujan. Kau akan kering dan mati di sini!”
Kerang itu membalas tanpa mau membuka cangkangnya, “Hari ini paruhmu tidak bisa lepas, besok paruhmu tidak bisa lepas. Kau sendiri yang akan mati di sini!”
Keduanya terus bertahan. Burung itu tidak mau melepaskan paruhnya, kerang itu tidak mau membuka cangkangnya. Mereka saling mengancam, saling menunggu siapa yang lebih dulu menyerah. Matahari bergerak, waktu berlalu, dan mereka berdua makin lelah.
Saat itulah seorang nelayan lewat di tepi sungai. Ia melihat keduanya bergulat tanpa bisa bergerak ke mana-mana. Sambil tersenyum, ia memungut burung berkik dan kerang itu sekaligus, lalu membawa pulang keduanya tanpa perlu bersusah payah.
Su Dai menatap Raja Hui. “Sekarang Zhao hendak menyerang Yan. Kalau kedua negeri bertempur lama dan rakyat kedua belah pihak sama-sama kelelahan, hamba khawatir negeri Qin yang kuat akan menjadi nelayan itu. Mohon Paduka memikirkannya masak-masak.”
Raja Hui terdiam, lalu berkata, “Kau benar.” Ia pun membatalkan rencana penyerangannya.
Dari kisah ini lahir peribahasa 鹬蚌相争,渔翁得利 (yù bàng xiāng zhēng, yúwēng dé lì), “burung berkik dan kerang bertengkar, nelayanlah yang beruntung”. Di Indonesia, kita punya pepatah yang serupa: “gajah bertarung sama gajah, pelanduk mati di tengah-tengah”, meski sudut pandangnya berbeda. Peribahasa Tiongkok ini mengingatkan bahwa dalam perselisihan yang keras kepala, sering kali yang menang justru pihak ketiga.
💖 Pesan Moral
- Dalam pertengkaran yang tak mau mengalah, kedua pihak sama-sama kalah.
- Waspadai pihak ketiga yang diam-diam menunggu kita lelah bertengkar.
- Kebesaran hati untuk melepaskan kadang menyelamatkan kedua belah pihak, dalam keluarga, pekerjaan, maupun persahabatan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Zhan Guo Ce (Siasat Negara-Negara Berperang), bagian “Yan Ce”, perumpamaan Su Dai kepada Raja Hui dari Zhao, asal-usul peribahasa 鹬蚌相争,渔翁得利.