Jurus Terakhir Sang Guru Gulat
Guru gulat ditantang oleh muridnya sendiri, ilustrasi naskah Gulistan karya Sa'di (1543). Gambar: Mahmud Muzahhib · Public domain · sumber
Di sebuah negeri, hiduplah seorang guru gulat yang sangat termasyhur. Ia menguasai tiga ratus enam puluh jurus, dan setiap hari ia mengajarkan jurus yang berbeda. Dari sekian banyak muridnya, ada seorang pemuda yang paling ia sayangi. Pemuda itu kuat, tampan, dan cepat belajar.
Sang guru mengajarkan hampir semua ilmunya kepada murid kesayangan itu: tiga ratus lima puluh sembilan jurus. Hanya satu jurus yang ia simpan untuk dirinya sendiri, entah karena lupa, entah karena firasat.
Dengan ilmu sebanyak itu, sang murid tak terkalahkan. Satu per satu pegulat terbaik di negeri itu ia tumbangkan. Namanya harum, dan ia sering diundang ke istana. Lama-kelamaan, ketenaran membuatnya sombong.
Suatu hari, di hadapan raja, ia berkata dengan angkuh, “Paduka, guruku memang lebih tua dariku dan karena itulah aku menghormatinya. Tetapi soal kekuatan dan keahlian, sebenarnya aku sudah melampauinya. Aku sanggup mengalahkannya.”
Raja tidak senang mendengar ucapan yang tidak tahu terima kasih itu. Ia memerintahkan sebuah pertandingan di lapangan istana. Para bangsawan, pejabat, dan rakyat berdatangan untuk menonton.
Sang murid melangkah ke tengah lapangan seperti gajah yang mengamuk, penuh tenaga dan percaya diri. Gurunya, yang sudah tua, tahu bahwa dalam soal kekuatan otot ia sudah kalah jauh. Maka ia menggunakan satu-satunya jurus yang tak pernah ia ajarkan.
Sang murid tidak tahu cara menangkis jurus itu. Dalam sekejap, sang guru mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala, lalu membantingnya ke tanah. Penonton bersorak. Raja memberi hadiah dan jubah kehormatan kepada sang guru, lalu menegur muridnya.
“Kau menantang orang yang mendidikmu, dan kau kalah,” kata raja.
Sang murid membela diri. “Paduka, ia tidak mengalahkanku dengan kekuatan. Ia menang karena masih ada satu jurus yang ia sembunyikan dariku.”
Sang guru menjawab, “Justru untuk hari seperti inilah jurus itu kusimpan. Orang bijak pernah berkata: jangan berikan seluruh kekuatanmu kepada temanmu, karena suatu hari ia mungkin berbalik melawanmu. Tidakkah kau pernah mendengar keluhan orang yang dikhianati oleh orang yang ia didik sendiri?”
Sa’di mengakhiri kisah ini dengan sebuah renungan: dalam dunia ini kesetiaan sudah langka, dan tak sedikit orang yang belajar memanah dari gurunya, lalu menjadikan gurunya sendiri sebagai sasaran.
Kisah ini juga bisa dibaca dari sisi lain: kerendahan hati seorang murid adalah perlindungan terbaiknya. Seandainya sang murid tetap menghormati gurunya, ia tidak akan pernah dipermalukan di depan raja, dan mungkin suatu hari jurus terakhir itu pun akan diwariskan kepadanya.
💖 Pesan Moral
- Jangan pernah melupakan jasa orang yang mendidik kita. Kesombongan adalah awal kejatuhan.
- Ilmu tanpa rasa hormat dan terima kasih akan kehilangan berkahnya.
- Pengalaman dan kebijaksanaan sering mengalahkan kekuatan dan kepercayaan diri yang berlebihan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah dalam Gulistan karya Sa’di dari Syiraz (1258), Bab I tentang perilaku para raja.